Turki

Lembaga Turki kirim makanan untuk 1.012 keluarga di Rohingya

Sekitar 5.000 keluarga akan menerima bantuan makanan dalam lima fase bulan ini

Rhany Chairunissa Rufinaldo   | 18.04.2019
Lembaga Turki kirim makanan untuk 1.012 keluarga di Rohingya Anak-anak Rohingya di sebuah kamp pengungsi menunggu untuk menerima bantuan makanan dan mainan oleh Perdana Menteri Turki Binali Yildirim (tidak terlihat) selama kunjungannya di pusat distribusi makanan Badan Kerjasama dan Koordinasi Turki (TIKA) di Maynar Guna di Cox's Bazar, Bangladesh pada 20 Desember 2017.   (Mustafa Kamacı - Anadolu Agency)

Ankara

Md. Kamruzzaman

COX’S BAZAR, Bangladesh 

Badan Kerjasama dan Koordinasi Turki (TIKA) mendistribusikan bahan-bahan makanan kepada 1.012 keluarga pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp sementara di distrik Cox’s Bazar Bangladesh, Rabu.

“Kami memberi setiap keluarga Rohingya 25 kilogram beras, enam kilogram dal (lentil) dan tiga liter minyak goreng,” kata wakil koordinator TIKA Emrah Ekinci kepada Anadolu Agency.

Ekinci mengatakan sebanyak 5.000 keluarga Rohingya akan diberikan bahan makanan yang sama dalam lima fase bulan ini, yang akan berlanjut sebagai paket bulanan reguler.

“Dengan demikian, kami dapat mendistribusikan bahan-bahan makanan kepada lebih dari 20.000 orang Rohingya per bulan,” kata dia, seraya menambahkan bantuan makanan juga didistribusikan ke beberapa ratus penduduk setempat yang membutuhkan.

TIKA mendistribusikan makanan yang sudah dimasak setiap hari ke Rohingya sejak awal masuknya Rohingya ke Bangladesh setelah penumpasan militer 25 Agustus 2017 di negara bagian Rakhine, Myanmar.

“Sekarang kami mendistribusikan bahan makanan sesuai kebutuhan mereka. Sebelum ini, kami juga mendistribusikan rempah-rempah sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata Ekinci.

TIKA sebelumnya mengunjungi kamp-kamp pengungsi Rohingya dan membuat daftar 5.000 keluarga.

Organisasi itu membagikan satu kartu untuk setiap keluarga dan berdasarkan kartu itu, mereka mendistribusikan barang-barang makanan sehingga semua 5.000 keluarga bisa menerima bantuan.

“Kami berterima kasih kepada TIKA dan Bangladesh karena telah membantu kami,” kata Rahima Khatun (70), yang melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh bersama empat anaknya setelah suaminya hilang dalam operasi militer.

Anwara Begum (60), yang melarikan diri ke Bangladesh dengan suaminya yang terluka parah dan kemudian meninggal dunia setelah empat bulan, mengatakan bahwa setelah kehilangan segalanya, mereka sekarang hidup dalam belas kasihan dan bantuan orang lain.

"Kami ingin kembali ke negara kami dengan keamanan dan hak-hak kami," katanya.

Kelompok yang teraniaya

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar.

Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA yang berjudul 'Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira'

Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.

PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak kecil - pemukulan brutal, dan penculikan yang dilakukan oleh personil keamanan.

Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.