Hayati Nupus
23 September 2019•Update: 23 September 2019
JAKARTA
Thailand menanam 12.000 bibit ganja di rumah kaca Universitas Maejo, Chiang Mai, sebagai fasilitas pabrik ganja medis skala industri pertama di kawasan Asean.
Penanaman itu untuk memenuhi produksi satu juta botol berisi lima milliliter minyak ganja untuk pasien yang membutuhkan pada Februari mendatang.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Kesehatan Masyarakat Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan ganja di rumah kaca seluas 3.040 meter persegi ditanam menggunakan metode organik murni.
Tanaman itu, lanjut Anutin, disimpan dengan keamanan tinggi karena secara teknis ganja masih dianggap sebagai narkotika.
Meski begitu revisi UU baru-baru ini memungkinkan ganja ditanam dan diresepkan untuk tujuan medis.
Budidaya tanaman itu hanya dapat dilakukan secara resmi oleh lembaga yang disetujui negara.
“Ini langkah bersejarah. Universitas akan menjadi pusat orang belajar bagaimana menanam dan menumbuhkan ganja berkualitas. Ganja bukan persoalna politik, itu produk bermanfaat bagi kesehatan masyarakat. Dalam waktu dekat, keluarga akan dapat menanamnya di kebun belakang seperti ramuan lain,” urai Anutin, seperti dikutip Bangkok Post.
Nota kesepahaman pengembangan perkebunan ganja itu diteken oleh Universitas Maeko dan Departemen Layanan Medis dan Organisasi Farmasi Pemerintah (GPO) pada Juni lalu.
Bulan ini, Dewan Narkotika memberikan izin perkebunan kepada universitas untuk menanam ganja di rumah kaca.
Targetnya, Februari tahun depan mereka dapat memanen 2,4 ton bunga ganja kering.
Arnat Tancho, Direktur Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian Alam Maejo, sekaligus manajer proyek ganja, mengatakan bahwa fasilitas tersebut memiliki kemampuan untuk menghasilkan tanaman medis bermutu karena area tersebut hanya digunakan untuk pertanian organik, tanpa menggunakan pupuk apa pun yang mengandung logam berat atau unsur beracun lainnya.
Selain itu, sistem rumah kaca itu juga menggunakan teknologi pintar untuk mengontrol suhu, tingkat kelembaban dan cahaya untuk hasil terbaik.
Universitas Maeko telah menyusun peta jalan untuk mengembangkan enam galur ganja lokal lainnya menjadi obat yang diresepkan, masing-masing dengan rasio CBD dan THC yang berbeda untuk berbagai tujuan perawatan.
Sementara itu, Kepala Departemen Pelayanan Medis, Somsak Akasin, mengatakan hasil awal penggunaan obat ganja di Thailand, yang dimulai satu bulan lalu pada 20 Agustus, menunjukkan bahwa pasien dengan kanker memiliki kualitas hidup yang lebih baik sebagai sisi.
Dengan minyak ganja, efek kemoterapi mereka berkurang.
Setengah dari anak-anak dengan epilepsy dan menggunakan obat tersebut memperoleh dampak yang baik, kata dia.