Hayati Nupus
17 Oktober 2019•Update: 18 Oktober 2019
JAKARTA
Asosiasi Perdagangan Inovasi Pertanian Thailand (Taita) mengancam akan menyeret Komite Bahan Berbahaya Nasional (NHSC) ke pengadilan jika menindaklanjuti usulan pelarangan bahan kimia pertanian beracun.
“Tentu saja, kami setuju bahan kimia itu berbahaya, jadi petani perlu dididik tentang cara menggunakannya dengan aman. Namun kami tak berpikir itu tepat jika diterapkan larangan langsung,” ujar Direktur Eksekutif Taita Voranica Nagavajara Bedinghaus, seperti dikutip Bangkok Post.
Voranica mengatakan kelompok tani menyimpan stok bahan kimia tersebut dalam jumlah banyak dan akan merugi jika pemerintah melarang penggunaannya.
Pemerintah, lanjut Voranica, harus membayar 10 miliar baht untuk membeli kembali dan membuang 40.000 ton yang saat ini disimpan, serta 10.000 ton yang telah ditebar petani.
Industri pertanian, imbuh Voranica, akan hancur karena 5 juta petani, yang secara kolektif bekerja pada 149 juta rai, akan menanggung biaya yang lebih tinggi akibat larangan tersebut.
Lagipula, menurut Voranica, tak ada bahan kimia pertanian lain yang dapat menandingi paraquat dan glifosat soal harga dan efisiensi.
Sementara bahan lain, ujar Voranica, akan membuat biaya produksi berlipat menjadi 12-14 kali.
Selasa pekan depan, NHSC akan menggelar pertemuan untuk memutuskan aturan soal penggunaan bahan kimia pertanian paraquat, glyphosate dan chlorpyrifos.
Bahan kimia ini populer namun berbahaya dan telah dilarang di berbagai negara.