Pizaro Gozali İdrus
16 April 2019•Update: 18 April 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Malaysia memprotes keputusan Amerika Serikat yang memasukkan negaranya dalam daftar "K" atau daerah-daerah rawan penculikan dan penyanderaan.
"Kementerian Luar Negeri protes keras keputusan pemerintah AS untuk memasukkan nama Malaysia dalam daftar indikasi 'K' yang baru," ujar pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Malaysia pada Senin.
AS memasukkan nama Malaysia dalam daftar K pada 9 April lalu dan meminta warganya berhati-hati jika berencana pergi ke Sabah karena rawan penculikan.
Malaysia mengatakan imbauan perjalanan itu tidak objektif dan tak menggambarkan fakta di lapangan, terutama terkait situasi keamanan di timur Sabar.
Malaysia menegaskan wilayah tersebut aman bagi turis yang terlihat dari jumlah kedatangan turis ke Sabah meningkat 5,5 persen, hingga mencapai 3,85 juta tahun lalu.
“Jumlah insiden penculikan juga menurun signifikan hingga hampir nol. Sabah Timur terus menarik perhatian para penyelam kelas dunia," kata pernyataan Kemlu Malaysia.
Malaysia mengaku keberhasilan ini berkat kerja sama keamanan yang kuat dengan negara-negara tetangga.
“Mengingat fakta-fakta ini, Malaysia mendesak AS untuk lebih objektif dalam penilaiannya. Kami mendesak AS untuk segera menghapus Malaysia dari daftar 'K',” kata Kemlu Malaysia.
Kemlu Malaysia mengatakan Duta Besar AS untuk Malaysia akan dipanggil untuk memberikan klarifikasi terkait persoalan ini.