Nicky Aulia Widadio
23 Juli 2020•Update: 26 Juli 2020
JAKARTA
Proses pencarian korban banjir bandang di Luwu Utara, Sulawesi Selatan diperpanjang hingga Sabtu.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Makassar Mustari mengatakan waktu pencarian yang telah memasuki hari kesepuluh diperpanjang tiga karena masih ada 10 korban yang belum ditemukan.
“Permintaan dari pemerintah daerah, pencarian diperpanjang lagi selama tiga hari,” kata Mustari ketika dihubungi, Kamis.
Dia menuturkan sejauh ini 38 orang meninggal dan empat jenazah di antaranya belum bisa diidentifikasi.
“Ada kemungkinan empat jenazah ini termasuk ke dalam daftar 10 orang yang hilang, kami masih menunggu hasil identifikasi,” tutur dia.
Menurut dia, pencarian korban dipersulit oleh masih banyaknya sisa material yang menumpuk akibat terbawa arus banjir bandang.
Banjir bandang terjadi pada Senin, 13 Juli 2020 pukul 21.00 waktu setempat akibat hujan berintensitas tinggi yang memicu Sungai Rangkong, Sungai Meli dan Sungai Masamba meluap.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kerusakan terjadi pada 4 ribu rumah warga, 82 tempat usaha, 13 rumah ibadah, sembilan sekolah, tiga fasilitas kesehatan, serta sejumlah instrastruktur lainnya.
Sejumlah jalur menuju Masamba masih tertimbun lumpur dan hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Banjir bandang telah merusak 12,8 kilometer jalan dan sembilan jembatan penghubung.
Sebanyak 14 ribu warga masih mengungsi di 60 titik pengungsian di Kecamatan Sabang, Baebunta dan Masamba.
Mereka belum kembali ke rumah karena khawatir akan banjir bandang susulan.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengatakan banjir bandang susulan dan gerakan tanah masih berpotensi terjadi di lokasi banjir bandang yang lalu.
Pemetaan PVMBG menunjukkan kecamatan di Luwu Utara memiliki potensi menengah hingga tinggi terhadap bencana tersebut.