Hayati Nupus
15 Juli 2019•Update: 16 Juli 2019
Hayati Nupus
JAKARTA
Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mengungkapkan dua orang meninggal dunia dan 2.000 lainnya mengungsi akibat gempa bumi berkekuatan M 7,2 yang mengguncang Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, pada Minggu.
Plh. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo mengatakan dua orang meninggal dunia itu adalah Aisyah, 51 tahun, warga Desa Gane Luar, dan Halimah warga Desa Papaceda, Halmahera Selatan.
“Saat gempa terjadi, Ibu Aisyah berlari keluar rumah dan ketimpa reruntuhan bangunan,” ujar Agus dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Sedang penyebab tewasnya Halimah, lanjut Agus, sejauh ini belum dapat dikonfirmasi.
Sementara 2.000 pengungsi itu, imbuh Agus, tersebar di 14 titik pengungsian.
Mayoritas pengungsi, kata Agus, berada di Kecamatan Bacan Selatan, dengan jumlah 1.000 jiwa.
BNPB juga mencatat setidaknya 58 unit rumah rusak dan dua jembatan di Desa Saketa, Kecamatan Gane Barat, Halmahera Selatan, hancur karena terguncang gempa.
Seluruh data ini, kata Agus, merupakan data sementara.
Saat ini, lanjut Agus, Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) setempat dan tim SAR gabungan masih menyisir lokasi kejadian.
Gempa bumi berkekuatan M 7,2 mengguncang Halmahera Selatan pada Minggu pukul 16.10 WIB.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan pusat gempa berada di darat kedalaman 10 km, berjarak 62 km timur laut Labuha, Maluku Utara.
Gempa yang terasa 2-5 detik itu terjadi akibat aktivitas sesar aktif Sorong-Bacan yang tersusun oleh batuan vulkanik dan sedimen yang mudah terlepas.
Hingga Senin pukul 07.00 WIB, BMKG mencatat terjadi 65 kali gempa susulan, 28 di antaranya terasa.
Bupati Halmahera Selatan menetapkan status Tanggap Darurat sepanjang 15-21 Juli 2019.