Hayati Nupus
22 Mei 2018•Update: 23 Mei 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Merapi dari Normal menjadi Waspada sejak Senin malam pukul 23.00 WIB.
Berdasarkan pengamatan PVMBG, tercatat Merapi empat kali erupsi freatik dan bersuara gemuruh pada Minggu. Erupsi pertama pukul 01.25 WIB berdurasi 19 menit dengan ektinggian kolom erupsi 700 meter, erupsi kedua pukul 09.38 WIB berdurasi enam menit dengan ketinggian kolom erupsi 1.200 meter, erupsi ketiga pada pukul 17.50 berdurasi tiga menit dengan ketinggian kolom tak teramati dan Selasa pukul 03.30 berdurasi dengan ketinggian kolom erupsi 3,5 kilometer.
“Terjadi peningkatan aktivitas letusan freatik, diikuti gempa vulkanik dan tremor, maka status kami naikkan,” ujar Kepala PVMBG Kasbani, Selasa.
Sebelumnya, ujar Kasbani, erupsi freatik terjadi pada 11 Mei lalu, setelah empat tahun nihil erupsi.
PVMBG merekomendasikan agar kegiatan pendakian dihentikan dan masyarakat tak beraktivitas di radius tiga kilometer dari puncak.
Hujan abu, ratusan warga mengungsi
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa hujan abu vulkanik terjadi di sekitar Merapi. Khususnya di Cangkringan, Ngemplak dan Pakem, Yogyakarta, juga di Kemalang, Klaten.
“Semalam sebagian masyarakat telah mengungsi mandiri ke tempat yang lebih aman,” ujar Sutopo.
Setidaknya 660 orang warga telah mengungsi. Sebanyak 298 di antaranya warga Cangkringan dan 362 lainnya warga Boyolali, Jawa Tengah.
“Jumlah pengungsi terus bertambah, kami masih terus mendata,” kata Sutopo.