İqbal Musyaffa
13 November 2018•Update: 13 November 2018
Iqbal Musyaffa
SINGAPURA
Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengatakan kunci dari stabilitas dan pertumbuhan di ASEAN adalah pemahaman bersama untuk melakukan kerja sama multilateral antar negara anggotanya.
Dia menyampaikan pernyataan itu dalam pembukaan ASEAN Summit ke 33 di Singapura, Selasa.
Lee mengatakan perubahan lingkungan geopolitik membuat sejumlah negara termasuk negara-negara besar beralih pada tindakan unilateral ataupun kesepakatan yang hanya melibatkan dua negara saja (bilateral).
Bahkan, Lee menambahkan beberapa negara-negara secara eksplisit menolak pendekatan dan institusi multilateral.
“ASEAN akan bekerja dengan partner eksternalnya untuk menangani tantangan yang dihadapi dunia yang saling terhubung dan saling ketergantungan,” tegas Lee.
Lee menambahkan bahwa ASEAN menentukan untuk mempertahankan kerja sama multilateral secara terbuka, inklusif, serta dengan arsitektur kawasan ASEAN-sentris.
“Platform ASEAN-sentris telah memungkinkan kawasan ini terlibat dalam kerja sama dengan negara-negara besar dan organisasi internasional,” urai Lee.
Kawasan ini menurut dia, sedang berada pada saat yang menentukan sejak dibentuk 51 tahun yang lalu sebagai sebuah kerja sama kawasan yang bebas, terbuka, dan berdasarkan peraturan sistem multilateral dalam naungan ASEAN yang tetap tumbuh dan stabil di bawah tekanan.
Tantangan yang dihadapi ASEAN saat ini menurut Lee, adalah tren dan persaingan dari kekuatan besar untuk melawan multilateralisme dengan menarik-narik anggota ASEAN ke arah yang berlawanan.
“Biar bagaimanapun ASEAN telah menunjukkan masih bisa bekerja sama dan menemukan kesamaan karena anggotanya bahwa bersama-sama lebih baik daripada sendiri-sendiri,” ungkap Lee.
Dengan berkumpul dalam satu asosiasi, Lee menambahkan negara-negara anggota ASEAN telah memperkuat posisi dan kedudukan ASEAN di dunia internasional.
“ASEAN memiliki masa depan cerah untuk menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2030,” kata Lee.