Sadik Kedir Abdu
ANKARA
Save the Children pada Jumat memperingatkan bahaya penyebaran wabah penyakit di kamp-kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh menjelang datangnya musim hujan.
Dalam sebuah pernyataan, kelompok HAM internasional tersebut mengatakan bahwa sumber penyakit berasal dari kurangnya sarana kakus.
"Potensi mewabahnya penyakit sangat nyata. Seperempat dari semua toilet di kamp-kamp tersebut diperkirakan akan rusak saat musim hujan," ungkap Myriam Burger, penasihat kesehatan Save the Children di wilayah permukiman ribuan pengungsi, Cox's Bazar.
PBB telah mengajukan permohonan dana darurat sebesar USD950 juta untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Rohingya.
Sementara itu, UNICEF mengatakan bahwa sedikitnya 50.000 toilet dibutuhkan oleh para pengungsi.
Menurut Amnesty International, sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750.000 warga, sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan, mengungsi dari Myanmar ke Bangladesh, setelah tentara Myanmar melancarkan operasi militer ke kelompok minoritas Muslim Rohingya.
Mereka melarikan diri dari operasi yang membunuh sanak saudara, menjarah rumah, dan membakar desa mereka.
Dokter Lintas Batas (MSF) menyebutkan bahwa selama 25 Agustus-24 September, setidaknya 9.000 Rohingya tewas di Rakhine.
Dalam sebuah laporan yang dirilis pada 12 Desember, MSF mengatakan 71,7 persen Rohingya atau sekitar 6.700 orang tewas akibat kekerasan, termasuk 730 anak-anak berusia di bawah 5 tahun.
PBB menyebut Rohingya sebagai kaum yang paling teraniaya di dunia, yang telah menderita karena sejumlah serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012.
PBB mencatat adanya pemerkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak-anak — pemukulan brutal dan penghilangan paksa selama operasi militer.
Dalam sebuah laporan, penyidik PBB menyatakan bahwa pelanggaran tersebut merupakan kejahatan kemanusiaan.
news_share_descriptionsubscription_contact
