Khaled Majdoub
02 Mei 2018•Update: 03 Mei 2018
Khaled Majdoub
RABAT
Menteri Luar Negeri Maroko Nasser Bourita mengatakan bahwa negaranya memutuskan hubungan dengan Teheran terkait dugaan hubungan antara Hezbollah dan sebuah kelompok separatis di Sahara Barat.
Berbicara kepada wartawan di ibu kota Maroko, Rabat, pada Selasa, Bourita mengatakan negaranya mengambil keputusan untuk menutup kedutaannya di Teheran dan meminta duta besar Iran agar segera meninggalkan Maroko.
Bourita mengatakan langkah itu diambil karena "keterlibatan Hezbollah Lebanon yang didukung Iran" dengan Front Polisario, yang "mengancam keamanan dan stabilitas negara".
Diduduki oleh Spanyol hingga 1975, Sahara Barat - sebuah wilayah besar di Maroko selatan - hingga kini diperebutkan oleh Rabat dan Front Polisario yang didukung Aljazair selama lebih dari empat dekade.
Sejak awal 1970-an, Front Polisario, sebuah gerakan pembebasan nasional, menuntut kemerdekaan wilayah yang mereka duduki di Sahara Barat.
Rabat mengatakan wilayah itu merupakan bagian integral dari Maroko. Namun, mereka telah mengusulkan sistem khusus untuk memberikan otonomi terbatas untuk Sahara Barat yang tetap berada di bawah bendera Maroko.
Front Polisario ingin mengadakan referendum di Sahara Barat untuk menentukan nasib politik kawasan itu.
Bourita mengatakan Maroko memiliki bukti mengenai Hezbollah yang menurutnya memberikan dana kepada Front Polisario.
"Rabat memiliki informasi mengenai diplomat di kedutaan Iran di Aljazair yang memfasilitasi pertemuan antara para pemimpin Hezbullah dan Polisario," katanya.
Dia menambahkan juga memiliki bukti bahwa Hezbullah memberikan senjata kepada kelompok separatis serta "informasi yang menghubungkan Polisario dan Hezbollah sejak November 2016".
Hezbullah, melalui sebuah pernyataan tertulis, mengatakan tuduhan Maroko itu merupakan "tuduhan tanpa dasar" yang berasal dari "tekanan AS, Israel dan Arab Saudi" untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran.
Arab Saudi, di tempat lain, menyambut baik keputusan Rabat dan mengungkapkan solidaritas dengan "saudara kami, Kerajaan Maroko".
“Pemerintah Saudi mengutuk keras campur tangan Iran dalam urusan internal Maroko melalui milisi teroris Hezbollah, yang melatih kelompok 'Polisario' untuk menghancurkan keamanan dan stabilitas di Kerajaan Maroko,” lapor kantor berita Saudi SPA, mengutip seorang pejabat dari Kementerian Luar Negeri Saudi.
Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir mengatakan Iran telah mencoba merusak keamanan di negara-negara Arab dan Islam.
"Iran mendestabilisasi keamanan negara-negara Arab dan Islam dengan memicu sektarianisme, mencampuri urusan internal mereka dan mendukung terorisme," tulis Jubeir di akun Twitternya.
"Apa yang dilakukan Iran terhadap Kerajaan Maroko melalui tangan kanan mereka [Hezbollah] dengan melatih Polisario Front adalah bukti kuat sikap Iran," tambahnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Anwar Gargash juga memberikan dukungan terhadap Maroko atas keputusan mereka terkait Iran.
"Kebijakan dan dukungan kami untuk Maroko memiliki warisan sejarah yang kuat. Sikap kami [terhadap Maroko] konstan baik, selalu konstan", katanya dalam sebuah posting di Twitter.
Qatar juga menyatakan solidaritas dengan Rabat "dalam melestarikan kedaulatannya terhadap semua upaya untuk merusak persatuan atau menargetkan keamanan Kerajaan Maroko dan keselamatan warganya", menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri.
"Qatar menegaskan pentingnya menghormati prinsip-prinsip yang mengatur hubungan antar negara, terutama menghormati kedaulatan negara, tidak campur tangan dalam urusan internal dan penyelesaian sengketa melalui dialog dan sarana damai dan metode yang diakui secara internasional," tambahnya.
Pihak berwenang Iran hingga kini belum merespon pernyataan menteri luar negeri Maroko tersebut.