Fatih Hafiz Mehmet and Kubra Chohan
ANKARA
Presiden Turki pada hari Minggu berkata bahwa teman seharusnya tidak saling menipu, perkataan ini mengacu pada pernyataan seorang jenderal AS soal kelompok teror PKK/PYD yang melakukan “rebranding” dan mengubah nama menjadi Syrian Democratic Forces (SDF).
“Kita tahu benar siapa adalah siapa. Keduanya adalah sama,” kata Erdogan pada konferensi pers di Bandara Ataturk Istanbul sebelum berangkat ke Arab Saudi dalam kunjungan ke negara Teluk selama sua hari.
“Yang terpenting bukanlah mengubah papan nama, tapi di dalamnya,” tambah dia.
Disebut bahwa Turki tak memberi pengakuan bahwa kelompok teror PKK/PYD mengubah nama menjadi SDF, Erdogan berkata, “Teman tak saling tipu,” merujuk kepada AS.
Jumat lalu, saat bicara di depan forum keamanan di Colorado, Jenderal Raymond Thomas, kepala Pasukan Khusus Tentara AS, berkata bahwa PKK/PYD telah mengubah nama menjadi Syrian Democratic Forces untuk bisa ikut berdiskusi tentang masa depan Suriah dan untuk meluluhkan hati Ankara.
AS sendiri selama ini mendukung PKK/PYD, juga beberapa kelompok milisi Arab lain yang kini berbendera SDF, yang tentu saja punya sejarah panjang berseberangan dengan Ankara.
AS memandang SDF sebagai “partner yang dipercaya” dalam perang melawan Daesh dan terus memasok mereka dengan senjata dan perlengkapan, meski Turki dengan keras menyatakan keberatan. Turki melihat PKK/PYD sebagai sempalan kelompok teror PKK di Suriah.
PKK sendiri dianggap bertanggung jawab atas teror di Turki selama lebih dari 30 tahun, yang menewaskan lebih dari 400 ribu orang. PKK dianggap sebagai kelompok teror di Turki, AS, dan Uni Eropa.
Turki dan Jerman
Juga berkomentar tentang ketegangan Turki-Jerman baru-baru ini, Erdogan berkata, “Tidak ada yang berhak untuk ikut campur dengan urusan dalam negeri Turki.”
Setelah warga negara Jerman Peter Steudner ditahan oleh pengadilan Turki minggu ini, Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel mengumumkan ancaman sanksi, sekaligus memberi sinyal akan adanya perubahan dalam hubungan Turki-Jerman, berkata bahwa kedua negara “tak bisa kembali seperti dulu”.
Steudner diduga menjadi bagian dari kelompok yang berencana mengadakan protes profokatif yang bertujuan untuk mengacaukan stabilitas Turki, mirip dengan protes yang terjadi di Gezi Park pada 2013 lalu.
Erdogan berkata Turki akan melakukan apapun untuk melawan mereka yang terlibat dengan aksi provokatif di Turki, bahkan akan mencoba meneruskan perlawanan secara diplomatik.
Soal komentar Gabriel mengenai hubungan Turki-Jerman, Erdogan berkata, “Kami bersama-sama di NATO. Kami negara-negara yang berunding soal proses [pendaftaran Turki] ke Uni Eropa. Kami sudah jadi partner sejak lama. Langkah-langkah yang bisa membahayakan pertemanan ini seharusnya tidak dilakukan.”
Erdogan kemudian mengeluhkan banyaknya anggota Fetullah Terrorist Organization (FETO) yang saat ini masih bergerak bebas di Jerman.
“Nama-nama mereka sudah diberikan” ke Jerman, sebut Erdogan, tapi mereka belum diekstradisi, walaupun kedua negara sudah memiliki perjanjian ekstradisi.
“Jika Anda memberikan perlindungan kepada teroris yang melarikan diri dari Turki ke Jerman, Anda memberi mereka kesempatan untuk mengampanyekan teror, Anda menyambut mereka ketika mereka melarikan diri dari Turki meskipun pengadilan Turki memutuskan mereka bersalah, Anda berikan mereka kesempatan untuk bicara di berbagai acara publik, jamu mereka di kantor presiden, maka Saya minta maaf kalau pendirian Saya kepada Anda juga tidak akan sama,” kata dia.
FETO, yang merencanakan kudeta gagal di Turki tahun lalu dan mengorbankan 250 orang, memiliki jejaring besar di Jerman, yang merupakan rumah bagi lebih dari 3 juta imigran Turki.
Sejak upaya kudeta yang dikalahkan itu, nyaris 4.000 terduga FETO mendatangi Jerman dari Turki dan negara-negara lain, menurut laporan media lokal.
Selain FETO, kelompok teroris PKK juga memiliki jaringan besar di Jerman dan melakukan beberapa aktivitas propaganda, perekrutan, dan pendanaan.
Sementara pemimpin Turki menuduh Jerman tidak punya solidaritas dalam memerangi terorisme, politisi Jerman berkali-kali mengkritik Turki dengan isu hak asasi dan kebebasan pers.
Pembatasan Al-Aqsa
Sebagai tambahan, Erdogan juga tak setuju dengan pembatasan terbaru di kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, situs suci ketiga bagi umat Muslim.
“Al-Aqsa tidak hanya milik Palestina, di sana juga tempat terhormat dan disucikan oleh 1,7 miliar umat Muslim sedunia,” katanya.
“Sebagai Ketua Pertemuan Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Saya berseru kepada Israel untuk sekali lagi bertindak sesuai garis hukum dan hak asasi manusia. Saya menggarisbawahi sekali lagi, mereka harus menghindari langkah-langkah yang menambah ketegangan,” tambah dia.
Erdogan menekankan, “Turki akan terus bekerja untuk menciptakan perdamaian di daerah ini dan mendukung saudara Palestina kami untuk berjuang demi kemerdekaan dan keadilan.”
"Kami tidak ingin menemukan saudara kami mengalami masalah dengan cara apa pun, dan kami sangat sedih dengan insiden terbaru ini. Hari ini, sebagai umat Islam, kita berada dalam masa di mana kita harus saling bersatu dan lebih dekat dari sebelumnya. Permasalahan, penderitaan di Suriah, Irak, Libya, dan Palestina sudah jelas.
Sayangnya, masalah baru terus ditambahkan ke yang sudah ada setiap hari. Apa yang terjadi di Al-Aqsa di depan dunia ini adalah contoh dari hal ini, " katanya.
"Anda tidak bisa berharap Dunia Islam diam saja terhadap pembatasan Al-Aqsa dan penghinaan terhadap kehormatan umat Islam. Dengan demikian, Turki telah menunjukkan reaksinya dengan fasih ", tambahnya.
Kerusuhan baru-baru ini di Yerusalem dan Tepi Barat, juga demonstrasi mengenai pemasangan detektor logam di gerbang Masjid Al-Aqsa, yang menurut Israel merupakan standar keamanan sebagai tanggapan atas baku tembak yang menyebabkan dua petugas polisi Israel dan tiga orang Palestina tewas.
Secara terpisah, tiga pemukim Israel ditikam sampai mati di Tepi Barat akhir Jumat ketika seorang warga Palestina masuk ke rumah mereka. Penyerang ini kemudian diduga ditembak mati oleh tetangga keluarga tersebut.
news_share_descriptionsubscription_contact
