Chandni
19 Maret 2018•Update: 20 Maret 2018
Ekip
ANKARA
Setelah pasukan Turki dan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) menumpas teroris YPG/PKK dan Daesh dari pusat kota Afrin pada Minggu, foto-foto udara menunjukkan warga tetap aman dan infrastruktur masih berdiri kokoh.
Namun, ketika pasukan koalisi AS masuk ke kawasan Raqqa di Suriah, lebih dari 2.000 warga tewas dan pusat kota pun hancur lebur di tengah upaya YPG/PKK mengusir Daesh.
Pada 17 Oktober 2017 lalu, YPG/PKK yang didukung oleh AS menendang semua teroris Daesh dari Raqqa. Video yang direkam oleh koresponden Anadolu Agency menunjukkan puing-puing yang tertinggal di kota tersebut.
Kelompok aktivis Raqqah tahun lalu mengatakan hingga 90 persen dari kota itu rata dengan tanah.
Pada Desember, LSM Syrian Network for Human Rights mengatakan 2.371 warga sipil, termasuk 562 anak-anak, tewas dalam operasi itu. Ditambah lagi, sekitar 450.000 terpaksa mengungsi dari rumah.
Dilaporkan juga bahwa teroris YPG/PKK menjarah properti warga setelah menguasai Raqqa. Mereka juga memblokir jalur masuk bagi penduduk yang mencoba kembali pulang.
Afrin kembali normal
Pasukan militer Turki dan FSA mengatakan sangat berusaha menjaga keamanan warga sipil selama Operasi Ranting Zaitun, yang diluncurkan pada 20 Januari untuk meruntuhkan teroris YPG/PKK dan Daesh.
Rekaman dari Anadolu Agency dan militer Turki menunjukkan gedung-gedung di pusat kota Afrin masih utuh, dan warga pun bisa melakukan aktivitas normal.
Kelompok teroris berhasil merusak beberapa kendaraan dan gedung untuk memberi kesan buruk mengenai militer Turki, yang dituduh melukai warga setempat.
Staf Umum Turki menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk menciptakan keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah tersebut, juga untuk melindungi masyarakat Suriah dari tekanan dan kekejaman teroris.
Operasi ini dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB, hak untuk membela diri di bawah Piagam PBB, dengan tetap menghormati integritas teritorial Suriah, kata pernyataan tersebut.
Pihak militer juga memastikan bahwa "sangat penting" supaya operasi tidak membahayakan warga sipil.
Afrin menjadi tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK ketika rezim Assad di Suriah menyerahkan kota tersebut kepada kelompok teror tanpa pertempuran pada Juli 2012 silam.