Iqbal Musyaffa
31 Desember 2019•Update: 01 Januari 2020
JAKARTA
Bank Indonesia menginformasikan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada November sebanyak Rp6.072,7 triliun.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan jumlah tersebut meningkat 7,1 persen secara tahunan (year on year).
“Peningkatan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 6,3 persen (yoy),” jelas Onny dalam keterangan resmi, Selasa.
Onny mengatakan akselerasi pertumbuhan M2 berasal dari peningkatan komponen uang beredar dalam arti sempit (M1).
Uang beredar dalam arti sempit (M1) menunjukkan peningkatan dari 6,6 persen (yoy) pada Oktober 2019 menjadi 10,5 persen (yoy) pada November 2019.
Peningkatan pertumbuhan bersumber dari peningkatan uang kartal dan giro rupiah. Sementara itu, komponen uang kuasi dan surat berharga selain saham tumbuh melambat.
Dia menjelaskan berdasarkan faktor yang memengaruhi, peningkatan M2 pada November 2019 terutama disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan aktiva luar negeri bersih, ekspansi operasi keuangan pemerintah, serta akselerasi penyaluran kredit.
“Pertumbuhan aktiva luar negeri bersih tercatat meningkat, dari 2,0 persen (yoy) pada Oktober 2019 menjadi 4,6 persen (yoy),” kata Onny.
Dia menambahkan operasi keuangan pemerintah juga tercatat ekspansi sebesar 2,4 persen (yoy), berbalik arah dari pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar -10,0 persen (yoy).
Ekspansi tersebut sejalan dengan peningkatan tagihan sistem moneter kepada pemerintah pusat yang diikuti dengan perlambatan kewajiban terhadap pemerintah pusat.
Selain itu, penyaluran kredit yang tumbuh meningkat sebesar 7,0 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 6,6 persen (yoy) turut mendorong peningkatan uang beredar.