Iqbal Musyaffa
17 Maret 2020•Update: 18 Maret 2020
JAKARTA
Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kian jeblok menurut para analis tidak terlepas dari kepanikan berlebihan dari pelaku pasar dalam menyikapi perkembangan isu penyebaran virus korona (Covid-19).
Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan kondisi saat ini merupakan kondisi yang sangat tidak wajar karena pelaku pasar khawatir dengan bertambahnya pasien virus korona sehingga pemerintah melakukan lockdown, penetapan darurat bencana, dan kekhawatiran lain.
“Itu yang membuat pelaku pasar panik,” ujar Reza kepada Anadolu Agency, Selasa.
Dia mengatakan kepanikan itu disebabkan oleh persepsi dan psikologis para pelaku pasar sendiri, sehingga mereka tidak menanggapi adanya berita positif seperti ada pasien korona yang sembuh, aksi pembelian kembali atau buyback saham oleh korporasi, serta berita positif lainnya.
“Kalau pelaku pasar tidak panik menyikapi, tidak perlu ada penurunan seperti ini. Langkah antisipasi sudah disampaikan pemerintah seperti social distancing dan work form home, masa belum cukup dan harus tunggu benar-benar lockdown?,” imbuh Reza.
Dia mengatakan efek dari kepanikan pelaku pasar justur akan berdampak lebih buruk karena beranggapan aktivitas bisnis akan terhenti karena virus korona.
Menurut Reza, aktivitas bisnis akan tetap berjalan walaupun ada pembatasan sistem kerja sehingga tidak perlu dikhawatirkan.
“Cara untuk meredakan penurunan ini ya harus dari pelaku pasar sendiri untuk bisa mengerem kepanikan mereka. Jangan sampai kepanikan justru menyebabkan mereka sendiri menderita,” tambah Reza.
Akibat banyaknya aksi jual yang disebabkan kepanikan dari pelaku pasar membuat perdagangan bursa pada hari ini sempat di halt karena mengalami penurunan lebih dari 5 persen.
Pada pukul 15.02 waktu JATS sempat dilakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada sistem perdagangan karena IHSG turun 5 persen ke posisi 4.456.
Keterangan resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan trading halt dilakukan sesuai dengan surat keputusan direksi PT Bursa Efek Indonesia tanggal 10 Maret terkait perubahan panduan penanganan kelangsungan perdagangan di BEI dalam kondisi darurat.
Pembekuan perdagangan dilakukan selama 30 menit dan sempat kembali ada trading halt kembali karena IHSG turun 5,15 persen.
IHSG ditutup pada posisi 4.456,74 atau melemah 4,98 persen (233,908 poin). Transaksi perdagangan pada hari ini relatif sepi dengan hanya ada transaksi sebesar Rp7,03 triliun untuk 391.507 kali transaksi untuk 5,06 miliar saham.
Reza menambahkan apabila kepanikan tidak dapat diredam, maka ada kemungkinan IHSG akan meluncur bebas meninggalkan zona 4000 menuju zona 3000 karena aksi buyback saham saja tidak bisa meredam kepanikan pelaku pasar.