İqbal Musyaffa
16 Mei 2018•Update: 17 Mei 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Maraknya kasus terorisme yang terjadi di Indonesia hanya berdampak minor terhadap pasar, kata analis.
Analis Global Market Bank Mega James Evan Tumbuan mengatakan kecilnya dampak kasus terorisme terhadap pasar karena dana para investor asing sudah banyak yang keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Di pasar saham kemarin, investor mencatatkan net sell sebesar Rp1,16 triliun,” ungkap dia kepada Anadolu Agency, Rabu.
Evan menjelaskan, IHSG dan rupiah yang terus tertekan bukan karena faktor keamanan dalam negeri, tapi karena tekanan dari defisit neraca perdagangan pada April sebesar USD1,62 miliar dan tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
“Kenaikan imbal hasil US Treasury mencapai level tertinggi semenjak 2014,” ujar Evan.
Yield US Treasury berada di angka 3,071 persen pada pagi ini sedangkan pada intraday sempat mencapai level tertinggi di 3,095 persen.
“Di sisi lain, imbal hasil untuk jangka waktu 30 tahun tadi malam sempat menyentuh 3,22 persen,” imbuh dia.
Investor asing, menurut dia, saat ini lebih banyak menarik dananya kembali ke Amerika Serikat karena hampir dapat dipastikan akan kembali terjadi kenaikan suku bunga AS pada Juni mendatang.
Sementara itu, pemerintah Indonesia telah melakukan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara pada hari Selasa kemarin. Seri SBSN yang akan dilelang adalah seri SPN-S (Surat Perbendaharaan Negara - Syariah) dan PBS (Project Based Sukuk) untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2018 dengan target indikatif Rp4 triliun.
Lelang tersebut, menurut Evan, berhasil menjaring minat investor senilai Rp9,1 triliun dan dana yang diserap pemerintah Rp4,05 triliun, lebih tinggi dari target Rp4 triliun.
Meski begitu, belum ada perbaikan kinerja pada IHSG dan juga nilai tukar rupiah. IHSG pada hari ini dibuka pada level 5.780,88 sementara pada penutupan kemarin di level 5.838,12.
Untuk nilai tukar rupiah saat ini berada pada level Rp14.077-Rp14.105 per dolar AS.