İqbal Musyaffa
26 April 2018•Update: 27 April 2018
İqbal Musyaffa
JAKARTA
Bursa saham Indonesia masih terus diterjang badai ketidakpastian ekonomi global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mengalami guncangan dan bahkan kini sudah di bawah level 6.000.
Pada pembukaan pagi tadi, IHSG berada pada level 6.080,380 dan pada saat penutupan perdagangan Kamis sore merosot hingga level 5.909,198 atau anjlok 2,81 persen.
Sebagaimana yang sudah marak diberitakan sebelumnya, menurut Executive Vice President Intermediary Business Schroders Bonny Iriawan kepada Anadolu Agency, Kamis, mengatakan IHSG masih terus tertekan akibat faktor eksternal ditambah maraknya investor asing yang angkat kaki dari lantai bursa saham Indonesia.
“Secara fundamental ekonomi kita sebenarnya tidak ada perubahan,” jelas dia.
Bonny mengatakan, bursa saham Indonesia sejak 2008 sudah terintegrasi dengan pasar global. Sehingga sejak saat itu banyak investor asing yang masuk ke pasar Indonesia.
“Dampak negatifnya, pada saat terjadi guncangan seperti ini, pasar saham kita terdampak dan investor banyak yang keluar,” lanjut dia.
Menurut dia, banyak investor asing yang mengambil langkah profit taking. Sejak mereka masuk pasar saham Indonesia dua atau tiga tahun lalu, menurut Bonny para investor asing sudah mendapatkan banyak capital gain.
“Dan itu wajar-wajar saja mereka keluar,” tambah dia.
Namun, dia mengatakan tidak seluruh investor asing keluar dari pasar saham Indonesia. Masih banyak investor asing yang berinvestasi untuk jangka panjang tetap bertahan di pasar.
Menurut dia, pelemahan indeks pada saat ini masih lebih baik dari yang terjadi tahun 2008. Pada saat itu indeks bisa terperosok 2-3 persen dalam satu hari.
Pelemahan IHSG salah satu faktor lainnya menurut dia adalah karena terus terdepresiasinya rupiah terhadap mata uang dolar AS. Mata uang dunia lainnya juga terus terdepresiasi oleh dolar AS.
“Sebenarnya AS juga tidak mau dolar terlalu perkasa karena akan membuat ekspor mereka bermasalah,” ujar Bonny.
Lebih lanjut, Bonny mengatakan, pada saat kondisi kembali normal, para investor akan kembali masuk berinvestasi.
“Untuk mencari equilibrium baru pada pasar saham, valas, dan obligasi memang tidak mudah,” lanjut dia.
Namun, Bonny menekankan bahwa kondisi pasar saat ini justru merupakan momentum yang bagus untuk para investor yang beroirentasi jangka panjang untuk mulai berinvestasi secara perlahan, khususnya untuk pasar reksa dana.
“Tapi untuk para trader, kondisi saat ini sangat tidak menarik,” imbuh dia.