JAKARTA
Penyebaran virus korona tidak hanya berdampak pada kesehatan manusia, tetapi juga pada kesehatan finansial dan ekonomi masyarakat.
Pandemi global ini juga turut membuat aktivitas ekonomi lesu, sehingga menyebabkan sedikitnya 11 ribu tenaga kerja di Jakarta harus kehilangan pekerjaannya.
Selain para pekerja yang harus terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), para pelaku UMKM juga harus terkena imbas dari penyebaran Covid-19 ini.
Kondisi ini berbeda dari kondisi krisis tahun 1998 dan 2008 silam karena pada saat itu para pelaku UMKM mampu bertahan di tengah gempuran krisis ekonomi.
Tidak sedikit pelaku UMKM yang harus menyiasati usahanya agar tetap bisa mengais rezeki dan tetap bertahan menahan gempuran dampak Covid-19 pada perekonomian.
Salah satunya dialami oleh Rifky Hamdani, seorang pelaku usaha UMKM berusia 29 tahun. Sejak 4 tahun lalu dia menjalani usaha jasa konstruksi bernama Interindo Karya Pratama di Pamulang.
Usaha yang dia jalani melayani renovasi, perawatan, ataupun pembangunan baru perkantoran dan juga perumahan, termasuk juga jasa desainnya.
Kepada Anadolu Agency, dia mengakui bahwa dampak dari virus korona pada aktivitas bisnisnya sangat signifikan.
“Klien-klien kita yang utama rata-rata perusahaan travel, yang saat ini justru terkena dampak paling dalam dari virus korona ini, jadi kita juga kena dampaknya,” ujar Rifky.
Menurut Rikfy, para perusahaan travel banyak menggunakan jasanya untuk merenovasi, merawat, dan juga membangun kantor cabang baru di berbagai tempat
Dia mengatakan akibat pukulan virus korona pada sektor travel dan pariwisata yang merupakan klien terbesarnya, membuat pembayaran pekerjaan yang sudah selesai dia lakukan menjadi terhambat.
Rifky mengatakan ada sekitar Rp150 juta keuntungan dari pembayaran pekerjaan yang harus tertahan di klien karena tidak mampu melakukan pelunasan pembayaran.
Selain itu, beberapa pekerjaan yang sudah direncanakan juga terpaksa harus tertunda.
“Ada 4 proyek dari perusahaan swasta dan 1 dari pemerintah yang harus dihold,” kata Rifky.
Dia mengatakan target omset sebesar Rp1,5 miliar pada tahun ini yang lebih besar dari pencapaian tahun lalu sebesar Rp900 juta, kemungkinan sulit tercapai karena omset yang berhasil dihasilkan baru Rp180 juta hingga saat ini.
“Saat ini kita juga sulit mencari klien lain selain di sektor travel, karena pekerjaan di luar ruangan sedang dibatasi,” tambah dia.
Selain itu, Rifky mengatakan para pekerjanya juga sudah banyak yang pulang kampung karena panik mendengar kabar adanya larangan mudik, sehingga mereka pulang lebih awal.
“Kita saat ini menyiasati bisnis dengan melakukan renovasi ataupun pembangunan rumah pribadi, karena tukang yang mau bertahan juga hanya sedikit,” keluh Rifky.
Kisah serupa juga dialami oleh Bambang Permadi, pelaku usaha UMKM berusia 30 tahun yang bergerak di sektor konveksi pakaian dengan nama usaha CV. Alta di Sukabumi.
Dia mengatakan penyebaran virus korona sangat memukul usahanya, karena bila dalam keadaan normal dia bisa menerima pemesanan pakaian baik itu kaos, kemeja, ataupun jaket hingga 10 ribu buah, di masa pandemi ini pesanan yang dia terima hanya sekitar 200 buah.
“Penurunan ini karena rata-rata pesanan berasal dari event perkantoran, kampus, sekolah, klub motor, dan lainnya yang saat ini semua kegiatan dilarang jadi orderan sepi,” kesah Bambang.
Dalam kondisi normal, dia bisa meraih omset hingga Rp500 juta sebulan, namun kini hanya sekitar Rp20 juta hingga Rp50 juta sebulan.
“Terpaksa saya harus merumahkan 4 karyawan seperti pekerja sablon, tukang paking, dan tukang bordir,” lanjut dia.
Bambang mengatakan untuk menyiasati kondisi tersebut, dia kini beralih memproduksi masker kain yang saat ini mengalami peningkatan permintaan.
Menurut dia, dengan strategi tersebut, dia masih bisa membuat usaha konveksinya tetap berjalan karena penjualan masker per hari bisa mencapai 2 ribu buah yang sebagian besar pesanan berasal dari Jakarta.
“Saya menjual masker kain dengan pemesanan minimal 1 lusin dengan pilihan warna beragam,” jelas Bambang.
Sementara itu, Rifai seorang pengusaha warung bakso juga harus merasakan penurunan omset dan penjualan yang cukup dalam akibat Covid-19.
Bila biasanya dia bisa meraih omset hingga Rp2 juta per hari dan mampu menjual hingga 100 porsi, saat ini hanya mampu menjual 40 porsi dengan pendapatan sekitar Rp800 ribu per hari.
“Kita saat ini hanya melayani penjualan melalui ojek online, dan ada beberapa yang datang ke warung untuk membawa pulang pesanan,” kata Rifai.
Rifai berharap agar wabah virus korona bisa segera berakhir sehingga aktivitas usaha dan aktivitas lain pada umumnya bisa kembali berjalan normal, terlebih lagi saat ini sudah menjelang bulan Ramadhan.