Muhammad Nazarudin Latief
15 Februari 2018•Update: 15 Februari 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Neraca perdagangan Indonesia tercatat negatif awal 2018.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data, perdagangan Indonesia defisit cukup dalam mencapai USD676,9 juta pada Januari tahun ini.
Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan defisit terjadi karena ekpor pada Januari (month to month) turun 2,81 menjadi sebesar USD14,46 miiliar, sementara impor tercatat pada angka USD15,13 miliar atau naik 0,26 persen (m to m).
Menurut Suhariyanto, catatan ekspor turun pada semua sektor, baik migas maupun non-migas. Dibanding bulan lalu, pada sektor migas, eksport turun 14,85 persen, dari USD1,509,9 miliar menjadi US$1,285,7 miliar.
Kemudian di sektor non-migas, turun 1,45 persen, yaitu dari USD13,363,4 miliar menjadi USD13,169,8 miliar.
“Ada komoditas yang harganya turun, ini baik di migas maupun non migas,” ujar dia di Jakarta, Kamis.
Penurunan ekspor migas disebabkan oleh menurunnya ekspor hasil minyak yang cukup dalam hingga 26,31 persen menjadi USD89,3 juta dan ekspor minyak mentah sebanyak 37,52 persen menjadi USD317,3 juta.
Selain itu, ekspor gas juga turun 0,19 persen menjadi USD879,1 juta.
Menurut Suhariyanto, penurunan terbesar ekspor nonmigas terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$370,9 juta (49,13 persen).
Kabar baiknya, kata Suhariyanto, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari 2018 naik 6,85 persen year to year (y-to-y). Demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya naik 19,64 persen.
Impor melonjak
Dari sisi impor, terjadi lonjakan hingga 26,44 persen dibanding tahun lalu (y-to-y). Hal ini membuat neraca perdagangan dengan beberapa negara menjadi timpang.
Dengan Tiongkok misalnya, Indonesia mengalami defisit US$1,83 miliar. Kemudian dengan Australia minus sebesar USD178,2 juta. Bahkan dengan sesame negara anggota ASEAN, yaitu Thailand, Indonesia rugi USD211,4 juta.
Menurut Suhariyanto, pertumbuhan impor tertinggi terjadi pada kelompok bahan baku dan bahan penolong yakni 2,34 persen (m-to-m).
Impor naik di sektor non-migas. Untuk non-migas mencapai USD12,99 miliar atau naik 3,65 persen dibanding bulan lalu. Jika dibanding tahun lalu, angka ini bahkan melonjak 28,08 persen.
Di sisi lain, impor migas mencapai USD2,14 miliar atau turun 16,31 persen dibanding Desember 2017, namun meningkat 17,35 persen dibanding Januari 2017.