07 Agustus 2017•Update: 07 Agustus 2017
Megiza Asmail
JAKARTA
Data Badan Pusat Statistik yang dikeluarkan belum lama ini menyebut jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2017 mencapai 27,7 orang atau 10,64 persen dari jumlah total penduduk Indonesia. Sebanyak 11 juta jiwa atau sekitar 40 persen dari jumlah tersebut adalah anak-anak.
Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Eni Gustina MPH, mengatakan catatan BPS tersebut berbanding lurus dengan hasil pemantauan gizi Kemenkes pada 2016 lalu. Sebelumnya Global Nutrition Report pada tahun 2014 juga telah memasukkan Indonesia dalam urutan 17 negara yang memiliki masalah gizi serius.
"Dari hasil pemantauan gizi tahun lalu, tercatat 27,5 persen anak Indonesia mengalami stunting atau kontet. Jumlah ini terjadi karena anak-anak mengalami kekurangan nutrisi," kata Ina dalam diskusi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Dia menambahkan, ada tiga masalah gizi utama yang membuat Indonesia masuk dalam deretan negara dengan masalah gizi buruk tersebut.
Tiga indikator masalah kekurangan gizi itu, kata Eni, dapat terlihat melalui catatan anak mengalami stunting atau kontet yang mencapai 27,5 persen; kurus atau berat badan di bawah standar sebanyak 11,1 persen; dan juga obesitas yang mencapai 4,3 persen.
"Stunting itu terjadi ketika anak kurang mendapatkan nutrisi dalam jangka waktu yang lama. Jika itu hanya terjadi dalam waktu sebentar, maka anak hanya akan mengalami badan yang kurus," ujarnya.
Di tempat yang sama, anggota Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Rahmat Sentika mengungkapkan, kondisi stunting sebagai masalah kurang gizi di Indonesia dapat terlihat dengan mudah dalam aktivitas sehari-hari.
Rahmat menyebut, stunting tampak jelas di stasiun kereta saat penumpang-penumpang wanita turun dari kereta. "Terasa sekali kalau di stasiun itu kondisi stunting di Indonesia. Sangat terlihat bahwa sepertiga perempuan-perempuan yang turun dari kereta terbilang pendek," sebutnya.
Lebih lanjut, dia mengatakan, masalah stunting atau kurang gizi anak tidak hanya terjadi karena faktor ekonomi keluarga. Rahmat menilai, kurangnya pengetahuan Ibu juga menjadi faktor penentu.
"Anak yang seharusnya diberi ASI, tapi malah diberi makanan lain yang tinggi kandungan gula, garam dan lemak. Tidak heran kalau saat ini obesitas dan diabetes pada anak mengalami peningkatan," jelasnya.