Muhammad Nazarudin Latief
08 Mei 2018•Update: 08 Mei 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Pelaku industri kelapa sawit di Indonesia diingatkan agar selalu waspada pada hambatan perdagangan yang sewaktu-waktu muncul di negara-negara tujuan ekspor.
Direktur Council Palm Oil Producing Countries (CPOPC) Mahendra Siregar mengatakan, sawit adalah penghasil minyak nabati paling kompetitif di dunia.
Keberadaan sawit, kata Mahendra, tentu akan bersaing dengan minyak nabati yang sudah ada di negara tujuan ekspor, seperti minyak kedelai, minyak jagung, minyak bunga matahari dan rapeseed.
“Minyak sawit akan menggerus keberadaan minyak nabati yang lain, karena ini paling kompetitif,” ujar Mahendra dalam seminar "Menjawab Hambatan Perdagangan Ekspor Minyak Sawit di Pasar Global" di Jakarta, Selasa.
Menurut Mahendra, produktivitas sawit paling tinggi yaitu 4,27 ton per hektare per tahun. Sementara rapeseed hanya 0,69; bunga matahari 0,52 dan kedelai 0,45. Selain itu, di sektor hulu selalu ada pembaruan teknologi pembibitan, pemeliharaan dan pengembangan sehingga akan meningkatkan produktivitas.
Hambatan perdagangan tersebut, menurut Mahendra bisa berbentuk tarif, non tarif maupun kampanye hitam terhadap produk kelapa sawit.
“Kalau kita selesaikan ini jangan dianggap tidak akan ada lagi masalah. Tidak mungkin. Ini produk yang paling kompetitif, akan menggerus produk lain di pasar. Tidak mungkin mereka diam saja,” ujar Mahendra.
Salah satu isu yang paling sering menimpa industri sawit adalah tudingan sawit sebagai biang deforestasi hutan tropis. Isu ini menurut Mahendra harus disikapi secara lebih bijaksana, karena harus diakui ada kebutuhan lahan pada industri ini.
“Di sisi lain, bagaimana pengelolaan hutan kita? Ini kan persoalan menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, lingkungan serta pembangunan sosial,” ujar dia.
Karena itu, Indonesia harusnya pro aktif menyelesaikan persoalan ini dan membawanya pada level yang lebih tinggi.
Industri kelapa sawit, menurut Mahendra harus melakukan banyak inovasi, mulai dari hilirisasi produk hingga pendalaman pasar luar negeri.
Adapun untuk hilirisasi, kelapa sawit bisa menghasilkan energi atau non energi seperti oleochemical, lubrican dan minyak nabati. Harus ada pula inovasi dalam bioteknologi, teknologi digital dan internet.
“Kita tidak hanya ekspor mentah tapi diolah dan turunannya banyak sehingga tercipta pekerjaan yang sangat beragam,” ujar dia.
Pendalaman pasar luar negeri bisa dilakukan dengan melakukan sinergi dengan pengusaha di negara tujuan untuk menghasilkan produk turunan yang bernilai tinggi.
“Itu peluang tersendiri yang pada gilirannya pihak negara tujuan ekspor juga punya kepentingan melindungi kontinuitas bisnis dan investasinya,” ujar dia.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono mengatakan sekitar 70 persen produk sawit yang dihasilkan Indonesia diekspor ke berbagai negara. Produk ini akan terus membanjiri pasar global karena produktivitas di dalam negeri juga terus membaik.
Karena itu pemerintah, menurut Joko, perlu membuat strategi perdagangan nasional kelapa sawit untuk memperkuat ekspor dan menghadapi hambatan perdagangan.
“Tantangan industri ini lebih berat lagi. Masalah fundamentalnya adalah persaingan yang akan terus berlanjut,” ujar dia.
Hambatan-hambatan perdagangan menurut Joko bisa diatasi dengan hubungan bilateral yang kuat yang berlandaskan perjanjian dagang. Sebab itu, dia mendesak pemerintah segera merampungkan perjanjian dagang dengan negara lain, seperti Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreemnet (CEPA), UE-Indonesia CEPA atau Indonesia-EFTA CEPA.