Muhammad Nazarudin Latief
01 Februari 2018•Update: 01 Februari 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia menargetkan bisa menjalin kerjasama perdagangan bebas (Free Trade Agreement) dengan negara-negara Asia Selatan akhir 2019 mendatang.
"Target FTA selanjutnya itu adalah Bangladesh, India dan Srilanka," ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat Rapat Kerja Kementerian Perdagangan di Jakarta, Rabu.
Menteri mengatakan potensi pasar kawasan ini cukup besar, baik dari sisi konsumsi maupun pertumbuhan ekonomi.
Produk Indonesia kurang bisa bersaing di luar negeri karena tidak adanya kerja sama perdagangan dengan negara tujuan ekspor.
Padahal negara kompetitor seperti Vietnam, Thailand dan Malaysia sangat agresif menjalin kerjasama perdagangan, sehingga sudah banyak mendaparkan fasilitas bebas bea masuk.
"Dalam 10 tahun terakhir, perjanjian perdagangan bebas kita baru dengan Chile, "ujar Menteri Enggar.
"Kendala ini yang harus kita tembus. Buka pasar baru dan segera realisasi berbagai perjanjian dagang. Kalau ini sudah peluang pertumbuhan ekspor akan lebih tinggi," tambah Menteri Enggar.
Menurut Menteri Enggar, tahun ini pemerintah menargetkan menyelesaikan sekitar 13 perundingan perjanjian dagang dengan berbagai negara dan kawasan dalam bentuk Comprehensive Economics Partnership Agreement (CEPA).
CEPA itu akan melibatkan kerja sama ekonomi dengan Australia, Uni Eropa, New Zealand, Jepang dan Turki.
Sementara Menteri Kordinator Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan selain masalah ekspor, Indonesia juga menghadapi kendala perdagangan dalam negeri yaitu inefisiensi dalam berbagai komponen.
"Sementara ini soal logistik menyangkut angkutan darat, laut, udara, kereta api, pergudangan, pengiriman," ujar Menteri Darmin.
Menurut Menteri Darmin, pada 2016, rasio antara logistik dengan PDB sekitar 24%. Di negara lain, sudah bisa mencapai 12-14%.