Ekonomi

Indonesia masih andalkan kelapa sawit ke Taiwan

Pemerintah sudah saatnya menggenjot ekspor hasil industri manufaktur

Muhammad Nazarudin Latief  | 22.03.2018 - Update : 22.03.2018
Indonesia masih andalkan kelapa sawit ke Taiwan Seorang pekerja perkebunan sawit memanen buah sawit di desa Kuwala, Kutalimbaru, Deli Serdang, Sumatra Utara pada 18 Januari 2017. (Jefri Tarigan - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Muhammad Latief

JAKARTA

Indonesia masih mengandalkan kelapa sawit sebagai komoditas utama perdagangan dalam misi dagang ke Taiwan, akhir pekan mendatang.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Arlinda mengatakan, pihaknya membawa 79 usaha dalam acara Indonesia Week 2018, di Taiwan Trade Centre, pusat perdagangan terbesar di kota tersebut.

Menurut Arlinda, produk yang ditawarkan adalah sawit lestari dari industri sawit berkelanjutan.

Menurut skema Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO), Indonesia merupakan produsen terbesar Certified Sustainable Palm Oil (CSO), memasok 6,58 juta ton atau separuh dari pasar global.

“Indonesia siap memenuhi permintaan minyak sawit lestari 100% yang berkualitas tinggi,” ujar dia dalam siaran persnya Kamis.

Ekspor minyak kelapa sawit Indonesia ke Taiwan pada 2017 mencapai USD2,09 juta atau meningkat sebesar 27,39 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar USD1,64 juta.

Total impor minyak kelapa sawit Taiwan pada 2017 dari pasar dunia mencapai USD 176,17 juta, artinya Indonesia baru berkontribusi pangsa pasar minyak kelapa sawit di Taiwan sebesar 4,66 persen.

Selain kelapa sawit, menurut Arlinda Indonesia juga menawarkan kopi. Komoditas ini, menurut Arlinda diakui oleh banyak negara mempunyai kualitas tinggi.

Ekspor kopi Indonesia ke Taiwan pada 2017 sebesar USD18,49 juta, naik 14,21persen dari tahun sebelumnya.

Tahun lalu, Indonesia juga mengalami surplus perdagangan sebesar USD 960 juta dari total perdagangan USD 7,5 miliar dari negara ini.

Di sektor pariwisata, kunjungan turis dari negara ini juga meningkat. Pada periode Januari-November 2017, tercatat sebanyak 168.183 orang turis Taiwan ke Indonesia, terjadi kenaikan sebesar 2,95% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

“Promosi pariwisatanya lewat berbagai pertunjukan budaya, serta didukung layanan bebas visa ke Indonesia,” ujar Arlinda.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal mengatakan hingga kini Indonesia masih bergantung pada ekspor komoditas, padahal negara tetangga yang mempunyai kondisi ekonomi relatif sama seperti Vietnam, Malaysia dan Thailand sudah berangsur beralih ke ekspor manufaktur.

Bahkan, kontribusi industri manufaktur pada ekspor melemah sekitar 5 persen, pada periode Januari-Februari tahun lalu 75,6 persen, pada periode yang sama tahun ini hanya 72,6 persen.

“Ekspor manufaktur yang kuat akan meredam terjadinya defisit perdagangan,” ujar dia saat dihubungi Anadolu Agency.

Menurut dia, salah satu kelemahan perdagangan komoditas adalah harganya ditentukan oleh pembeli, berbeda dengan ekspor hasil industri manufaktur yang harganya bisa ditentukan oleh produsen.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın