Muhammad Nazarudin Latief
29 November 2017•Update: 29 November 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan pada Selasa, Indonesia kini fokus meningkatkan kapasitas ekspor produk seperti tekstil, pakaian, dan alas kaki ke pasar Uni Eropa (UE). Soal kelapa sawit, hingga kini belum ada hambatan berarti meski ada perdebatan soal produk tersebut di kalangan konsumen.
“[Kelapa sawit] meskipun berisik tapi bea masuknya nol, terus ada penyerapan ke UE,” ujar Menteri Airlangga seusai membuka EU-Indonesia Business Dialogue (EIBD) ke-7, di Jakarta, kemarin.
Ekspor kelapa sawit ke UE, menurut Menteri Airlangga, masih sangat tinggi. UE merupakan tujuan ekspor kelapa sawit terbesar kedua untuk Indonesia, setelah India. Tahun lalu, ekspor ke UE mencapai 4,4 juta ton, naik dari tahun sebelumnya sejumlah 4,2 juta ton.
Menurut dia, ada beberapa produk turunan kelapa sawit yang terkena bea masuk hingga 10 persen. Bea tersebut masih lebih rendah dari beberapa produk tekstil yang dikenai bea masuk hingga 12,5 persen.
Meski demikian, Menteri Airlangga menekankan, pemerintah dan pelaku industri ini harus terus memantau perkembangan di negara-negara tersebut. Dia mengakui, resolusi parlemen UE, “Palm Oil and Deforestation of Rainforest”, bisa menganggu kinerja ekspor.
Dalam laporan ini, industri kelapa sawit di Indonesia dianggap mempunyai kontribusi terhadap deforestrasi hutan tropis, karena pembukaan lahan yang agresif. Selain itu, dalam laporan yang sama, minyak kelapa sawit Indonesia dikatakan dihasilkan dari industri yang melanggar hak asasi manusia masyarakat lokal.