Ekonomi

IHSG menguat tipis di tengah bayang-bayang memanasnya perang dagang

Selama sentimen perang dagang masih terjadi, ada peluang IHSG kembali melemah

İqbal Musyaffa   | 10.05.2019
IHSG menguat tipis di tengah bayang-bayang memanasnya perang dagang Bursa Efek Indonesia. (Foto file – Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Iqbal Musyaffa

JAKARTA 

Pada penutupan perdagangan Jumat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis 0,17 persen ke level 6.209,118.

Penguatan ini terjadi di saat Amerika Serikat resmi meningkatkan tarif impor produk asal China dari 10 perse menjadi 25 persen.

Analis Global Market Bank Mega James Evan Tumbuan menjelaskan penguatan ini karena adanya rebound pada sektor barang konsumsi dengan peningkatan saham Kimia Farma hingga 7,9 persen dan Unilever yang naik 2,6 persen.

Sementara itu, menurut Evan, dalam sepekan ini investor banyak melepas saham-saham di bursa Indonesia, sehingga IHSG membukukan rapor merah. Pergerakan IHSG masih berisiko ditambah dengan adanya rilis defisit neraca transaksi berjalan (CAD) yang sebesar USD7 miliar atau 2,6 persen dari PDB.

Evan menilai angka CAD saat ini jauh lebih dalam dibandingkan kuartal I 2018 yang sebesar USD5,19 miliar atau 2,01 persen PDB.

“Bahkan defisit kali ini merupakan CAD kuartal I yang paling dalam sejak 2015. Salah satu penyebabnya adalah kinerja perdagangan barang yang bisa dibilang memburuk,” ungkap dia.

Dia mengungkapkan defisit neraca transaksi berjalan Indonesia ini membuat negara lebih banyak bergantung dengan investasi asing dan karenanya rentan terhadap arus keluar (capital outflow) ketika sentimen investor berubah suram.

“Secara tren, masih ada potensi sell off pada IHSG,” jelas dia, kepada Anadolu Agency, Jumat.

Evan menambahkan inti dari penguatan IHSG ini karena aksi rebound pelaku pasar setelah diterpa penurunan sejak awal minggu lalu.

“Menurut saya, selama sentimen perang dagang masih terjadi, ada peluang IHSG kembali melemah,” kata dia.

Evan mengatakan pada pukul 15.00 WIB tadi, Trump resmi menaikkan tarif impor terhadap produk China senilai USD200 miliar dari 10 persen menjadi 25 persen. Satu jam setelahnya, China mengumumkan untuk menyiapkan aksi balasannya.

“Kita harapkan lanjutan negosiasi Jumat pagi waktu Washington hari ini dapat mengurangi panasnya perang dagan AS dan China,” tambah dia.

Sementara itu, terkait dengan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih bergerak di kisaran Rp14.275 - Rp14.375 per 1 USD dengan level tertinggi sempat berada pada Rp14.365 per 1 USD pada 9 Mei kemarin.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.