Rhany Chairunissa Rufinaldo
28 Agustus 2018•Update: 28 Agustus 2018
Furkan Naci Top
ATHENA
Yunani pada Senin setuju untuk memberikan perlindungan kepada dua mantan komandan elit Turki yang terkait dengan Organisasi Teror Fetullah (FETO), kelompok di balik upaya kudeta Juli 2016 di Turki.
Juru bicara kepolisian Theodoros Hronopoulos mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa masa tahanan 18 bulan mantan komandan Halit Cetin dan Fatih Arik telah berakhir pekan lalu.
Duo itu, yang dulunya bagian dari unit operasi Angkatan Laut Turki (SAT), kemudian meminta perlindungan setelah pembebasan mereka.
Hronopoulos mengatakan permintaan Cetin dan Arik dikabulkan, mereka kemudian dikirim ke tempat rahasia setelah meninggalkan kamp mereka. Dia menambahkan bahwa proses suaka mereka terus berlanjut.
Cetin dan Arik mencari suaka di Yunani setelah mereka memasuki negara itu secara ilegal pada Februari 2017.
Stavroula Tomara, pengacara mereka, mengatakan kepada media Yunani pada Senin bahwa dia tidak dapat menghubungi Cetin dan Arik sejak 20 Agustus.
Menurut hukum Yunani, seseorang yang proses suakannya sedang berlangsung dapat ditahan selama maksimal 18 bulan.
Beberapa jam setelah kudeta Juli 2016 untuk menggulingkan pemerintah Turki dikalahkan, delapan mantan personil militer tiba di Yunani dengan helikopter Black Hawk yang dibajak dan meminta suaka.
Turki segera mengeluarkan permintaan ekstradisi, yang akhirnya ditolak oleh Mahkamah Agung Yunani pada Januari 2017, setelah serangkaian persidangan dan banding.
Pemerintah Turki menuduh sejumlah tentara terlibat dalam upaya kudeta Juli 2016, dan menjadi anggota FETO.
FETO dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Fetullah Gulen mengatur kudeta yang berhasil dikalahkan pada 15 Juli 2016, yang menyebabkan 251 orang tewas dan hampir 2.200 orang terluka.