Maria Elisa Hospita
19 April 2018•Update: 19 April 2018
Hajer M’tiri
PARIS
Keputusan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa telah memicu permasalahan perbatasan Irlandia, sehingga Inggris harus menyelesaikannya, kata kepala Dewan Uni Eropa, Rabu.
Donald Tusk mengatakan, dalam pertemuan Brussel bulan lalu, para pemimpin UE telah menyepakati periode transisi pasca-Brexit dan pedoman negosiasi kerja sama dengan Inggris di masa depan.
"Kami ingin memanfaatkan momentum positif dalam negosiasi ini untuk menyelesaikan masalah-masalah luar biasa seperti menemukan solusi untuk masalah perbatasan Irlandia dan Irlandia Utara," jelas Tusk di hadapan perwakilan Parlemen Eropa di Strasbourg.
Dia memperingatkan Inggris bahwa Uni Eropa akan meninggalkan kesepakatan perceraian dan transisi Brexit apabila kesepakatan mengenai perbatasan Irlandia antara Westminster dan Brussel tidak tercapai.
"Brexit telah menimbulkan masalah [perbatasan Irlandia] dan Inggris harus membantu menyelesaikannya. Tanpa solusi, tidak akan ada kesepakatan perceraian dan transisi," tegas Tusk.
Tusk menambahkan bahwa para pemimpin Uni Eropa akan meninjau negosiasi pada Juni, sekaligus memulai perundingan pertama soal hubungan UE-Inggris di masa depan.
Kepala Dewan Eropa juga mengatakan, para pemimpin setuju dengan penilaian Inggris mengenai kemungkinan keterlibatan Rusia dalam serangan gas saraf eks mata-mata Rusia di Salisbury, Inggris, bulan lalu, dan memutuskan untuk memanggil kembali Duta Besar UE untuk Moskow.
Dalam referendum Brexit 2016, 56 persen warga Irlandia Utara memilih untuk tetap berada di Uni Eropa.
Dublin telah menyatakan keinginannya untuk menggagalkan kesepakatan perceraian kecuali Inggris bersedia memenuhi permohonan perbatasannya.
Inggris akan resmi meninggalkan UE pada Maret 2019 dan mengakhiri keanggotaannya selama 44 tahun di blok tersebut.