Rhany Chairunissa Rufinaldo
14 Maret 2019•Update: 15 Maret 2019
Michael Hernandez
WASHINGTON
Presiden Donald Trump pada Rabu mengumumkan perintah darurat untuk menangguhkan armada Boeing 737 Max di Amerika Serikat setelah model pesawat itu mengalami dua kecelakaan maut.
Trump mengeluarkan pengumuman itu setelah belasan negara lainnya memerintahkan penangguhan Boeing 737 Max-nya, sementara investigasi soal kecelakaan berlanjut.
"Perintah itu akan diberlakukan sampai pemberitahuan lebih lanjut. Keamanan rakyat Amerika adalah perhatian utama kami," kata presiden.
Dia juga menyatakan keyakinannya bahwa Boeing akan menyelesaikan masalah ini.
Perintah Trump akan berlaku untuk Boeing 737 Max 8 dan 9.
Sementara itu, Boeing menyatakan bahwa pihaknya mendukung keputusan tersebut yang didasarkan pada kewaspadaan, tetapi menekankan bahwa mereka tetap percaya secara penuh pada armada itu.
"Keselamatan adalah nilai inti di Boeing selama kami membuat pesawat terbang dan itu akan selalu terjadi. Tidak ada prioritas yang lebih besar dari itu bagi perusahaan dan industri kita," kata Direktur Dennis Muilenburg dalam sebuah pernyataan.
"Kami melakukan segala yang kami bisa untuk memahami penyebab kecelakaan dalam kemitraan dengan para penyelidik, menyebarkan peningkatan keselamatan dan membantu memastikan ini tidak terjadi lagi," tambah Muilenburg.
Sejak Oktober, sejumlah pilot maskapai menyampaikan keluhan keselamatan tentang armada 737 Max ke basis data federal di mana semuanya menyangkut situasi pesawat yang menanjak tajam tak lama setelah lepas landas.
Salah seorang pilot melaporkan pesawat dengan cepat turun setelah lepas landas, memaksa pilot agar segera mematikan autopilot untuk melanjutkan pendakian dan menggagalkan kemungkinan menukik ke tanah.
Dallas Morning News merupakan yang pertama kali melaporkan keluhan.
Penerbangan Ethiopian Airlines 302 jatuh pada Minggu di Addis Ababa, ibu kota Ethiopia, menewaskan semua penumpang dan awak yang berjumlah 157.
Sebelumnya, tipe pesawat yang sama milik Lion Air juga mengalami kecelakaan pada Oktober di Indonesia dan menewaskan semua penumpang dan awaknya.
Kedua kecelakaan itu terjadi tak lama setelah lepas landas.
Administrasi Penerbangan Federal (FAA) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa keputusan untuk menangguhkan pesawat didasarkan pada informasi yang dikumpulkan dari lokasi kecelakaan Ethiopian Airlines pada Rabu serta informasi satelit.