Astudestra Ajengrastrı
23 Mei 2018•Update: 24 Mei 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Pertemuan antara AS dengan Korea Utara yang rencananya dilakukan pada 12 Juni di Singapura kemungkinan akan ditunda setelah tensi kembali meninggi antar kedua negara, ujar Presiden Donald Trump pada Selasa.
Saat bertemu dengan wartawan di Gedung Putih bersama Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, Trump menyatakan pertemuan tersebut "mungkin tidak jadi dilaksanakan" pada tanggal yang semula disetujui.
"Kalau tidak terjadi, mungkin [pertemuan itu] akan terjadi lain kali," kata Trump. "Ada beberapa syarat yang kami inginkan. Saya rasa kami akan mendapatkan syarat-syarat tersebut. Kalau tidak, kami tidak akan mengadakan pertemuan."
Juga di hadapan media, Moon berkata dalam bahasa Korea bahwa "nasib dan masa depan" Semenanjung Peninsula tergantung pada pertemuan tersebut.
Diumumkan saat hubungan antar-Korea sedang hangat-hangatnya pada bulan lalu, Pyongyang bersiap membongkar situs Punggye-ri -- tempat di mana mereka telah melakukan enam kali tes misil -- antara Rabu dan Jumat, tergantung cuaca.
Dalam perjalanannya ke AS, penasihat keamanan nasional Moon, Chung Eui-yong, berkata Seoul "99,9 persen" yakin bahwa akan ada perubahan dalam pertemuan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari tersebut.
Menanggapi komentar Trump, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo berkata kepada reporter di Kementerian Luar Negeri bahwa AS akan "tetap siap" apabila pertemuan tetap terjadi pada 12 Juni.
Pompeo menolak mengatakan seberapa besar kemungkinan pertemuan akan terjadi sesuai rencana, meski dia kembali mengatakan bahwa Korea Utara akan mendapatkan keuntungan dari investasi ekonomi AS bila mereka mau meninggalkan program nuklirnya.
"Kalau semua berjalan lancar dan denuklirisasi berjalan lancar, Amerika bisa memberikan banyak hal yang akan membuat kehidupan masyarakat Korea Utara lebih baik," ucap dia.
Tetapi pada pekan lalu, penasihat keamanan nasional Trump, John Bolton, memantik kekesalan Pyongyang setelah mengusulkan agar "model Libya" diberlakukan di Korea Utara. Bolton merujuk kepada proses denuklirisasi negara di Afrika Utara tersebut pada 2003, yang ditukar dengan janji keuntungan ekonomi.
Namun pemimpin Libya, Muammar Gaddafi, dibunuh dan digulingkan kurang dari satu dekade kemudian, yakni pada 2011, setelah Barat memberi dukungan pada pemberontak-pemberontak di negara tersebut untuk membuat kudeta militer.
Selain membuat Korea Utara marah, komentar Bolton juga dianggap tak membantu Korea Selatan, dan Trump sendiri menyangkal ide tersebut. Berkata kepada reporter, Trump meyakinkan bahwa "model Libya sama sekali bukan model yang kami siapkan jika bicara tentang Korea Utara".
Bahkan, dalam pernyataannya pada Kamis, Trump menjamin keselamatan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bila Korut memilih jalan denuklirisasi.
"Kami akan menjamin keselamatannya. Dan kami sudah mengatakannya sejak awal," kata Trump. "Dia akan aman, dia akan bahagia, negaranya akan menjadi kaya, negaranya akan bekerja keras dan menjadi makmur."
Pertemuan Trump dan Moon di Gedung Putih dijadwalkan berlangsung selama dua jam, di mana para pemimpin akan membahas hubungan bilateral, diikuti dengan makan siang bersama para penasihat utama mereka.