08 September 2017•Update: 08 September 2017
Gulsen Topcu
DOHA, Qatar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani berbicara lewat telepon untuk membahas krisis Teluk, Jumat.
Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman al-Thani mengatakan kepada televisi Al Jazeera bahwa kedua pemimpin tersebut mendisuksikan pertemuan antara Emir Kuwait Sheikh Sabah al-Ahmad al-Jaber Al Sabah dan Trump.
Sebelumnya, Emir Kuwait dan Trump menggelar konferensi pers. Dalam konferensi pers tersebut Trump berkata: "Saya menghargai dan menghormati mediasi. Saya bersedia untuk menjadi mediator".
Menlu Qatar mengatakan bahwa presiden AS telah memanggil semua pihak untuk berdialog dan menyelesaikan krisis diplomatik antara negara-negara Arab. Ia menambahkan, solusi akan lebih mudah dicapai dengan mengimplementasikan kewajiban bersama, daripada memberikan perintah dari satu pihak ke pihak lainnya.
Krisis Teluk dimulai pada 5 Juni, ketika Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain secara bersamaan memutus hubungan diplomatik dan tranpsortasi dengan Qatar, dan menuding Qatar mendukung terorisme.
Doha telah membantah tudingan tersebut dan menyebut upaya untuk mengisolasinya secara diplomatis sebagai bentuk pelanggaran hukum internasional.
Kuwait memiliki peran sentral dalam upaya penyelesaian krisis, yakni dengan mengirimkan utusan-utusan tingkat tinggi untuk menyampaikan pesan antara Qatar dengan empat negara Arab lainnya.
Blok pimpinan Saudi telah memberikan daftar yang berisi 13 tuntutan kepada Qatar dan meminta Qatar untuk memenuhinya.
Pekan lalu, Trump juga telah menghubungi pimpinan Arab Saudi Raja Salman, dan mendesak semua pihak untuk menemukan solusi atas krisis tersebut.
Sesaat setelah krisis meletus pada Juni, Trump menyalahkan Qatar karena mendanai terorisme, dan secara terang-terangan mendukung Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya dalam usaha mereka untuk mengisolasi negara tersebut.