Rhany Chairunissa Rufinaldo
28 Juni 2019•Update: 01 Juli 2019
Beyza Binnur Donmez dan Vakkas Dogantekin
ANKARA
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Kanselir Jerman Angela Merkel pada Jumat bertukar pandangan tentang konflik keamanan di Timur Tengah dan Afrika di sela-sela KTT G-20 di Jepang, lansir majalah Amerika Politico.
Menurut media itu, Trump dan Merkel membahas berbagai masalah, termasuk aktivitas berbahaya Iran di Timur Tengah.
Libya dan wilayah Sahel di Afrika, Ukraina timur, dan masalah perdagangan AS-UE juga dibahas selama pertemuan, tambahnya.
Majalah politik itu mengatakan bahwa Trump mengecam Jerman karena kontribusinya pada pembangunan pipa gas Nord Stream 2, menambahkan bahwa itu hanya akan meningkatkan ketergantungan Eropa pada gas alam Rusia.
Berbicara kepada wartawan setelah pertemuan tertutup, Trump menyebut Merkel sebagai teman baik.
Pertemuan itu terjadi setelah meluasnya perselisihan dagang dan mata uang antara Eropa dan AS.
Pekan lalu, ketika Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi mengatakan stimulus tambahan akan diperlukan untuk membantu Eropa mengatasi tantangan ekonomi, nilai euro terhadap dolar mengalami penurunan tajam dan pasar keuangan Eropa menguat.
Trump menganggap devaluasi euro sebagai serangan yang dimotivasi oleh daya saing dolar, mengecam langkah Draghi dalam serangkaian cuitan di Twitter dan mengatakan bahwa Eropa, China dan yang lainnya lolos dengan kebijakan tidak adil mereka untuk waktu yang lama.
Presiden AS juga mengkritik kebijakan kemanusiaan pemerintah Jerman terhadap para pengungsi.
Ini sangat kontras dengan komentarnya pada 2013, tiga tahun sebelum dia dilantik sebagai presiden AS, di mana dia memuji Merkel karena melakukan pekerjaan yang fantastis sebagai Kanselir Jerman.
Trump mengancam Jerman dan negara-negara UE lainnya dengan tarif otomotif jika mereka tidak mematuhi agenda perdagangan adil dalam enam bulan.
Pemerintah AS juga mengkritik sekutunya di NATO, termasuk Jerman, yang gagal mengalokasikan setidaknya 2 persen dari anggaran pertahanan mereka untuk tujuan bersama aliansi militer yang beranggotakan 29 negara itu.