Megiza Soeharto Asmail
30 Maret 2018•Update: 31 Maret 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Presiden Donald Trump mengancam untuk "menunda" pakta perdagangan bebas baru-baru ini dengan Korea Selatan sampai setelah kesepakatan dicapai dengan Korea Utara.
Trump mengatakan dia mungkin mengambil tindakan karena pengaruh kesepakatan yang diberikan atas Seoul.
"Saya mungkin akan menahannya setelah kesepakatan dibuat dengan Korea Utara," katanya kepada para pendukung di Ohio.
"Apakah Anda tahu mengapa? Karena itu kartu yang sangat kuat, dan saya ingin memastikan semua orang diperlakukan dengan adil dan kami bergerak dengan sangat baik dengan Korea Utara. Kita akan lihat apa yang terjadi. Tentu saja, retorika yang terjadi telah sedikit meredam, bukankah begitu?
"Mungkin itu akan bagus, mungkin tidak. Dan jika tidak bagus, kita meninggalkan, dan jika itu baik, kita akan menerimanya," tambahnya.
Pada awal pekan ini Washington dan Seoul sepakat untuk merevisi perjanjian perdagangan mereka, dengan perubahan paling signifikan yang memengaruhi perdagangan mobil dan ekspor baja Korea Selatan ke AS.
Tidak dijelaskan sama sekali bagaimana ancaman Trump akan menguntungkan AS dalam pembicaraan dengan Korea Utara, yang difokuskan untuk mengakhiri program rudal nuklir dan balistik Pyongyang.
Beberapa saat sebelum ancaman untuk menunda persetujuan itu diungkapkannya, Trump sempat menyebut rencana pakta tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa.
Sebelumnya pada Kamis, Selatan dan Utara mengumumkan akan mengadakan pertemuan ketiga pemimpin pada 27 April sebelum pertemuan yang direncanakan antara Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un berlangsung.
Pertemuan antara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in akan berlangsung di Rumah Perdamaian yang berada di sisi selatan desa perbatasan Korea yang dijaga ketat di Panmunjom, menurut pernyataan bersama.
Ini akan menjadi agenda pertemuan antar-Korea pertama sejak 2007, penundaan yang sebagian sempat dijelaskan oleh status Moon sebagai pemimpin garis kiri pertama negara itu dalam satu dekade bahwa hubungan bilateral benar-benar rusak antar dua pemerintahan konservatif itu.
Tidak seperti pendahulunya yang liberal, Moon tidak harus melakukan perjalanan ke Pyongyang.
Kesediaan Kim untuk mengunjungi bagian selatan Zona Demiliterisasi Korea terjadi setelah perjalanan kejutannya ke China minggu ini, yang merupakan perjalanan luar negerinya yang pertama sejak mengambil alih kekuasaan pada tahun 2011.
Hingga kini, spekulasi telah terbangun dan menyebut-nyebut bahwa Korea Utara dipaksa terlibat dengan melumpuhkan sanksi global yang ditujukan untuk mengakhiri pengembangan senjata nuklirnya.
Pertemuan-pertemuan yang direncanakan tahun ini mengikuti serangkaian pertemuan antar-Korea yang dilakukan sejak Januari, yang mencakup pembicaraan upaya kerja sama yang sejalan dengan penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin dan Paralimpiade Korea Selatan.
Pemimpin Korea Utara itupun telah mengatakan siap untuk membahas denuklirisasi, selama Seoul dan Washington juga mengambil langkah menuju perdamaian.