Fatih Hafiz Mehmet
ANKARA
Tiongkok sedang memperluas kamp "pendidikan ulang politik" yang menargetkan Muslim Turki Uighur di wilayah Xinjiang, menurut laporan Wall Street Journal.
Laporan itu yang diterbitkan pada Jumat itu mengatakan bahwa Tiongkok telah secara tajam memperluas program pengasingan yang pada awalnya menargetkan para ekstremis etnis Uighur, namun sekarang membatasi sejumlah besar kelompok minoritas Muslim, termasuk yang sekuler, tua dan lemah, di kamp-kamp di seberang barat laut negara itu.
Wilayah Xinjiang adalah rumah bagi sekitar 10 juta orang Uighur. Kelompok Muslim Turki yang membentuk sekitar 45 persen populasi Xinjiang ini, telah lama menuduh pemerintah Tiongkok atas diskriminasi budaya, agama dan ekonomi.
Sejumlah foto satelit dan spesialis dalam analisis foto menunjukkan bahwa kamp-kamp tersebut telah meluas, kata laporan itu.
Laporan itu mengatakan hingga satu juta orang, atau sekitar 7 persen dari populasi Muslim di wilayah Xinjiang Tiongkok, kini telah ditahan di dalam jaringan "pendidikan ulang politik" yang semakin meluas, menurut pejabat AS dan ahli PBB.
Keseluruhan program pengasingan telah lama disembunyikan karena banyak orang Uighur takut berbicara, kata laporan itu.
Enam mantan narapidana yang diwawancarai menggambarkan bagaimana mereka atau tahanan lain diikat di kursi dan kekurangan makan.
"Mereka juga akan menceramahi kami tentang agama, mengatakan tidak ada yang namanya agama, mengapa Anda percaya pada agama, tidak ada Tuhan," kata Ablikim, seorang mantan narapidana Uighur berusia 22 tahun.
Laporan itu mengatakan 30 keluarga tahanan telah diwawancarai, lima di antaranya melaporkan bahwa anggota keluarga mereka telah meninggal di kamp atau tidak lama setelah pembebasan mereka. Banyak yang mengatakan mereka telah berjuang untuk mencari tahu di mana keluarga mereka ditahan dan bagaimana keadaan mereka.
Seorang pejabat senior Tiongkok, Hu Lianhe dari United Front Work Department (UFWD), secara terbuka mengakui keberadaan kamp untuk pertama kalinya minggu ini, tetapi dia mengatakan kamp itu adalah "pusat pelatihan kerja", tambah laporan itu.
Menanggapi pertanyaan dari panel PBB, Hu mengatakan tidak ada "penahanan sewenang-wenang" di Xinjiang dan membantah bahwa satu juta orang telah ditahan. Dia tidak mengatakan berapa banyak orang berada di pusat pelatihan tersebut.
Menurut laporan itu, sejumlah ahli di kawasan tersebut serta aktivis Uighur mengatakan kekacauan di sana didorong oleh kepolisian Tiongkok yang keras, pembatasan ketat pada kegiatan keagamaan, dan kebijakan preferensial bagi para migran non-Uighur ke wilayah tersebut.
Tiongkok meningkatkan sejumlah pembatasan dalam dua tahun terakhir, melarang laki-laki berjanggut dan wanita memakai jilbab serta memperkenalkan apa yang dianggap oleh banyak ahli sebagai program pengawasan elektronik terluas di dunia, tambahnya.
Mantan tahanan lain yang diwawancarai mengatakan mereka tidak diperbolehkan untuk sholat, menyimpan salinan Al-Quran atau puasa selama Ramadhan. Ada yang mengatakan mereka dipaksa makan babi yang dilarang dalam Islam.
news_share_descriptionsubscription_contact

