Shadi Khan Saif
KABUL, Afghanistan
Ketika Taliban terus terlibat dalam serangkaian upaya rekonsiliasi simbolis, perang di Afghanistan telah menewaskan sekitar 200 lebih warga sipil selama bulan suci Ramadhan saja, tanpa ada tanda-tanda gencatan senjata.
Data yang dihimpun oleh Anadolu menunjukkan, korban warga sipil berjatuhan akibat serangkaian peristiwa antara lain ledakan ranjau darat, serangan bom bunuh diri, pembunuhan yang ditargetkan, dan serangan udara.
Sedikitnya 200 warga sipil Afghanistan tewas dan lebih dari 300 orang lainnya terluka di daerah Helmand, Ghazni, Nangarhar, Jawzjan, Paktika, Ghor, Badghes, Zabul, Provinsi Kunduz, Herat, Faryab, Sar-i-Pul, Kapisa, Baghlan, Maidan Wardak, dan kota Kabul selama Ramadhan yang dimulai pada 6 Mei.
Ibukota Afghanistan, Kabul, bahkan terkena tiga serangan roket oleh teroris pada pekan terakhir bulan Mei, menyebabkan enam tentara Afghanistan dan lima warga sipil tewas, dan melukai sedikitnya 20 orang warga sipil.
Namun, Provinsi Ghazni masih menjadi daerah paling tidak aman dari 34 provinsi di Afghanistan pada bulan Mei lalu.
Pada bulan Ramadhan, 33 orang anak dan 14 wanita Afghanistan telah tewas, dan 34 anak dan sembilan wanita lainnya mengalami luka dalam insiden kekerasan, menurut Grup Pembela Warga Sipil, organisasi yang didirikan oleh 20 organisasi warga sipil Afghanistan.
Di bawah kepemimpinan Menteri Dalam Negeri dan Pertahanan Afghanistan yang baru, Massound Andrabi dan Assadullah Khalid, pasukan keamanan Afghanistan telah direorganisasi menjadi kekuatan yang relatif agresif terhadap para pemberontak.
Pasukan keamanan Afghanistan telah menguasai daerah Deh Yaq di Provinsi Ghazni pada bulan ini, setelah dua tahun di bawah kendali Taliban.
Pasukan keamanan dan Taliban pada hari Minggu membuat klaim telah menewaskan sekitar 100 pejuang dari pihak yang berlawanan di provinsi Ghazni tengah.
Sedangkan Menteri Pertahanan Afghanistan mengklaim telah menewaskan 160 anggota Taliban, yang disebut kelompok Unit Merah di Provinsi Ghazni dan Maidan Wardak.
Di sisi lain, Taliban membuka front baru di pusat provinsi Ghor, di mana 18 pasukan keamanan tewas pada pekan lalu. Di provinsi tetangga, Badghes, pemberontak berhasil merebut kembali Bala Murhab dengan membunuh setidaknya 12 pasukan keamanan di pos pemeriksaan di pinggiran daerah itu.
Mantan kepala intelijen Afghanistan, Rehmatullah Nabil, mengatakan pada konferensi pers di Kabul pada hari Minggu bahwa bentrokan yang lebih mematikan terjadi pada saat Taliban berada dalam pembicaraan damai yang diusulkan oleh Amerika Serikat (AS).
Taliban menghindar gencatan senjata
Mirza Mohammad Yarmand, pengamat keamanan berbasis di Kabul, mengatakan Taliban berusaha menghindar untuk mengumumkan gencatan senja di bulan Ramadhan atau Idul Fithri, atas saran dan anjuran kekuatan asing di belakang mereka.
"Tidak ada seorang pun yang meminta kami untuk menuang air dingin di atas medan perjuangan Jihad, atau melupakan 40 tahun pengorbanan kami sebelum mendapatkan tujuan yang kami inginkan," kata pemimpin Taliban, Mawlawi Hibatullah Akhundzada, dalam pesan Idul Fitri.
Dia menuduh pemerintah Afghanistan telah berusaha menyabotase dialog antara Taliban dan tokoh politik Afganistan "dengan mencari kemenangan".
Terdapat referensi yang jelas, di berbagai putaran pembicaraan di Moskow antara pemberontak dan politisi Afghanistan dari kelompok-kelompok oposisi, bahwa pemerintah Afghanistan tidak memiliki perwakilan resmi.
Menanggapi masalah ini, Zalmay Khalilzad, negosiator perdamaian dari pihak Amerika Serikat, mengatakan melalui seri unggahan di twitter, bahwa pesan Idul Fitri pemimpin Taliban menunjukkan dukungan penuh untuk proses perdamaian, dan semangat untuk berpartisipasi dalam dialog.
Dalam penyelesaian final, Zalmay mendorong dilakukan power sharing atau pembagian kekuasaan dengan Taliban.
“Pada saat yang sama, pernyataan dengan nada bombastis tidak diperlukan, dan hanya berfungsi untuk memperumit dan mengganggu saat kita ingin memajukan pembicaraan damai. Pernyataan itu mendorong AS melakukan kekerasan, kami tidak mau. Tingkat kekerasan di Afghanistan sudah tidak dapat diterima dan kami tidak ingin melanggarnya," tambah Khalilzad.
Waheed Mujda, pakar masalah Taliban, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa terdapat pertentangan yang kuat di antara pemimpin Taliban terhadap ide untuk melakukan gencatan senjata.
"Mereka [Taliban] melihat kehadiran pasukan asing di Afghanistan sebagai pembenaran untuk kelanjutan pertempuran. Tahun lalu, ketika Taliban memasuki gencatan senjata singkat, banyak pemimpin top [Taliban] tidak menyukainya," kata Waheed.
Taliban dan utusan AS akan memulai pertengkaran politik di ibukota Qatar Doha akhir bulan ini tentang cara dan sarana untuk mengakhiri perang berusia 18 tahun ini.
news_share_descriptionsubscription_contact

