17 Juli 2017•Update: 17 Juli 2017
Alex Jensen
SEOUL
Korea Selatan berusaha melibatkan Korea Utara dengan mengusulkan perundingan militer pekan ini, meskipun Pyongyang tetap bersikeras untuk melanjutkan pengembangan senjata nuklir yang bisa menimbulkan sanksi internasional
Apabila Korea Utara menerima tawaran perundingan tersebut, pertemuan akan berlangsung di Panmunjom, sebuah desa gencatan senjata di sepanjang perbatasan yang dijaga oleh ribuan pasukan di kedua belah sisi.
Tujuannya adalah untuk mengakhiri "semua tindakan permusuhan" di sekitar antar-Korea garis demarkasi militer, demikian menurut pernyataan Kementerian Pertahanan Korea Selatan yang dikutip oleh Kantor Berita Yonhap.
Kementerian ingin Pyongyang mengembalikan jalur komunikasi militer dengan maksud untuk pertemuan Jumat, kemudian menyerahkan keputusan yang fleksible soal agenda dan pejabat yang akan memimpin perundingan nantinya.
Langkah Seoul ini sejalan dengan ambisi publik Presiden Moon Jae-in dalam mendorong Pyongyang bebas nuklir sambil mencapai dialog bersama dengan kerjasama lain dan proyek bantuan yang sudah berakhir di bawah pendahulunya Moon, mengikuti uji coba nuklir pertama dari dua percobaan yang dilakukan Korea Utara tahun lalu.
Pertemuan terakhir antara militer Korea Utara dan Korea Selatan terjadi tahun 2014.
Pada saat Seoul berharap untuk mencegah serangan perbatasan maritim dan penggunaan pesawat mata-mata Korea Utara, Pyongyang juga tidak suka upaya Korea Selatan yang mencoba menembus negara mereka dengan siaran propaganda lintas perbatasan.
Isu-isu tersebut telah menyebabkan kedua negara saling menyerang and juga ada ancaman keterlibatan lebih besar yang disebabkan perlengkapan militer yang dimiliki kedua belah pihak