Michael Hernandez dan Betul Yuruk
29 Juni 2018•Update: 30 Juni 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
PBB membenarkan pada Kamis bahwa Sekretaris Jenderal Antonio Guterres akan mengunjungi para pengungsi Rohingya yang saat ini tinggal di pengasingan di Cox's Bazar, Bangladesh, pada pekan depan.
Guterres akan tiba di negara Asia Tenggara ini pada 1 Juli bersama Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, kata juru bicara Guterres, Stephane Dujarric, kepada wartawan.
"Kunjungan mereka akan menyoroti kemurahan hati Bangladesh karena menjadi tuan rumah gelombang pengungsi terbesar di 2017 dan pentingnya komunitas internasional untuk berbuat lebih banyak," ujar Dujarric.
"Kedatangan ini juga bertujuan untuk memberi dasar kepada dialog lebih lanjut dengan Pemerintah Bangladesh tentang rencana jangka-menengah untuk situasi pengungsi dan menekankan kembali dukungan PBB dan Bank Dunia untuk mencari solusi terbaik atas situasi orang-orang Rohingya," imbuh dia.
Setelah melakukan pertemuan dengan otoritas Bangladesh di Ibu Kota Dhaka, Guterres dan Kim akan melanjutkan perjalanan ke Cox's Bazar pada 2 Juli, di mana mereka akan bertemu langsung dengan pengungsi Rohingya dan pekerja-pekerja kemanusiaan "dan mendorong bantuan dana lagi".
Distrik di sebelah tenggara Bangladesh ini telah menjadi rumah bagi ratusan ribu pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan dan persekusi yang menimpa mereka di tanah kelahiran mereka, Myanmar.
Guterres dan Kim akan didampingi oleh Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi, Filippo Grandi, dan Direktur Eksekutif Dana Populasi PBB Natalia Kanem.
"Mereka akan melihat situasi pengungsi Rohingya yang baru tiba di Bangladesh dan menilai kemajuan untuk pemulangan pengungsi yang aman, sukarela dan bermartabat, sesuai dengan standar internasional," kata Dujarric.
Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750 ribu pengungsi, kebanyakan wanita dan anak-anak, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan militer Myanmar meluncurkan kekerasan kepada komunitas Muslim minoritas, menurut Amnesty Internasional.
Setidaknya 9.400 warga Rohingya tewas di Negara Bagian Rakhine sejak 25 Agustus hingga 24 September tahun lalu, menurut Doctors Without Borders.
Dalam laporan yang dirilis beberapa waktu lalu, kelompok kemanusiaan ini berkata kematian 71,7 persen atau 6.700 Rohingya ini disebabkan oleh kekerasan. Ini termasuk 730 anak-anak di bawah usia 5 tahun.
Rohingya, yang disebut PBB sebagai orang-orang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan akan serangan yang meningkat sejak belasan tewas dalam kekerasan komunal pada 2012.
PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan -- termasuk bayi dan anak-anak -- pemukulan brutal dan penghilangan yang dilakukan oleh para personel keamanan.
PBB menyebut pembunuhan massal dan pengusiran ini sebagai aksi pembersihan etnis.