Dunia

Rusia kirim bala bantuan untuk Haftar di Libya

Kontraktor militer swasta dari Rusia membantu Haftar mengendalikan ladang minyak terbesar Libya, kata Wall Street Journal

Rhany Chairunissa Rufinaldo   | 30.06.2020
Rusia kirim bala bantuan untuk Haftar di Libya Juru bicara militer GNA Mohammed Kanunu memeriksa pangkalan udara Al-Watiya setelah pihaknya mengambil pangkalan udara yang diduduki oleh pasukan pemberontak Khalifa Haftar dalam Operasi 'Volcano of Rage' di Tripoli, Libya pada 18 Mei 2020. Langkah ini diambil setelah tentara Libya menghancurkan tiga sistem pertahanan udara Pantsir pasukan Haftar buatan Rusia yang dipasok oleh Uni Emirat Arab (UEA) dalam 48 jam terakhir. Gudang senjata dan amunisi juga disita oleh tentara Libya. (Hazem Turkia - Anadolu Agency)

Ankara

Ilyas Tayfun Salci

LONDON

Rusia mengirim bala bantuan ke Libya untuk mendukung panglima pemberontak Khalifa Haftar, lansir media Amerika Serikat, Senin.

The Wall Street Journal mengatakan bahwa menurut pejabat Eropa dan Libya, kontraktor militer swasta dari Rusia membantu pasukan pimpinan Haftar mengambil kendali atas ladang minyak terbesar Libya pekan lalu.

Pesawat-pesawat kargo Rusia secara teratur bolak-balik mengunjungi pangkalan udara Rusia di Suriah dan Libya dalam beberapa pekan terakhir.

Para pejabat militer AS mengatakan Moskow kemungkinan mengirimkan senjata atau pasukan untuk memperkuat komandan pemberontak.

Laporan itu menambahkan bahwa Rusia juga telah mengirim jet tempur MiG-29 dan sistem radar canggih.

Brigjen Korps Marinir Bradford Gering, direktur operasi untuk Komando Afrika AS, memperingatkan bahwa pesawat-pesawat itu bisa saja diuji coba oleh kontraktor yang tidak berpengalaman yang tidak akan mematuhi hukum internasional.

The Wall Street Journal juga mencatat bahwa Kementerian Luar Negeri Rusia tidak menanggapi permintaan komentar tentang dukungan militer seperti yang mereka katakan di masa lalu bahwa kontraktor militer tidak mewakili pemerintah Rusia.

Libya telah dirundung perang saudara sejak Muammar Khaddafi lengser dan wafat pada 2011.

Pemerintah Libya kemudian didirikan pada 2015 di bawah perjanjian yang dipimpin oleh PBB, tetapi proses politik tak kunjung tercapai karena serangan pasukan Haftar.

Terlepas dari argumen tak berdasar dari panglima pemberontak Khalifa Haftar dan para pendukungnya, PBB mengakui pemerintah yang dipimpin oleh Fayez al-Sarraj.

Pemerintah meluncurkan Operasi Badai Perdamaian terhadap Haftar pada Maret untuk melawan serangan di ibu kota dan baru-baru ini merebut kembali lokasi-lokasi strategis termasuk Tarhuna, benteng terakhir Haftar di Libya barat.


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın