Rhany Chairunissa Rufinaldo
28 Januari 2019•Update: 28 Januari 2019
Yusuf Ozcan
PARIS
Ribuan orang di Paris turun ke jalan pada Minggu untuk memprotes demonstrasi anti-pemerintah yang dilakukan oleh gerakan Rompi Kuning selama berminggu-minggu.
Kelompok yang menamai dirinya Syal Merah berkumpul di Nation Square Paris dan berjalan ke Bastille Square, meneriakkan kata-kata "cukup" dan "akhiri kekerasan".
Laurent Soulie, seorang insinyur aeronautika berusia 51 tahun, mengatakan kepada wartawan atas nama kelompok itu bahwa kemarahan Rompi Kuning bisa dipahami dan dibenarkan, namun kekerasan yang dilakukan selama protes tidak dapat diterima.
Menurut kepolisian Paris, lebih dari 10.000 orang yang kebanyakan mengenakan syal merah, menghadiri unjuk rasa.
Protes Rompi Kuning
Protes Rompi Kuning, yang dimulai sebagai reaksi terhadap kenaikan pajak dan berubah menjadi protes terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron, terus berlanjut meskipun pemerintah meminta mereka untuk berhenti.
Sejak 17 November, ribuan demonstran yang mengenakan rompi kuning cerah berkumpul di kota-kota besar Prancis, termasuk Paris, untuk memprotes kebijakan Macron tentang kenaikan pajak bahan bakar yang kontroversial dan memburuknya situasi ekonomi negara itu.
Demonstran menggelar protes dengan memblokir jalan serta pintu masuk dan keluar ke stasiun pengisian bahan bakar dan pabrik di seluruh negeri.
Di bawah tekanan, Macron akhirnya mengumumkan kenaikan upah minimum dan membatalkan kenaikan pajak.
Namun, sejak itu saat itu, aksi protes tumbuh menjadi gerakan yang lebih luas yang bertujuan mengatasi ketimpangan pendapatan dan mengajak warga memberikan suara yang lebih kuat dalam pengambilan keputusan pemerintah.
Setidaknya 10 orang tewas, sekitar 6.000 orang ditahan dan lebih dari 2.000 lainnya terluka dalam aksi protes tersebut.