Chris Huby, Handan Kazancı, Zeynep Ozyol
PARIS, Prancis
Seperti titik beku, tenda-tenda kecil bertebaran di sepanjang kanal Paris. Tempat itu adalah satu-satunya posko penampungan bagi ratusan imigran dari berbagai negara yang dilanda perang dan kekerasan.
Lari dari peperangan, kesengsaraan dan kekacauan, lantas menempuh perjalanan panjang nan menyakitkan, hingga sampailah mereka di ibu kota Prancis, salah satu tempat terkaya di Eropa. Tahun baru ini mereka lewati tanpa makanan, rumah, atau uang.
Anadolu Agency menemukan sekelompok imigran muda yang tengah menghangatkan diri di sekitar api di luar tenda untuk bertahan di tengah dingin malam ini.
Pencari suaka yang hidup dalam tenda di tengah kota Paris
Para imigran keluhkan penganiayaan dan kurangnya tempat penampungan.
10.01.2018
Esok paginya mereka berencana untuk bergegas ke pusat amal agar bisa memperoleh kopi, roti dan buah-buahan setelah mengantre panjang.
Zahir berkata, sudah tujuh bulan ia berada di Paris – tempat yang menurutnya tak memiliki kemanusiaan.
“Selama tujuh bulan ini saya tidur di luar; semua imigran ini tidur di luar.
“Mereka bilang ada kemanusiaan di Eropa. Saya pernah mendengar, di negara-negara seperti Jerman dan Prancis, ada begitu banyak cinta dan kemanusiaan, tapi saya tak menemukan itu di sini.
“Mereka menganiaya imigran, melecehkan kami secara verbal, dan tak ada yang peduli,” katanya.
Imigran lainnya, Abad, warga Pakistan, juga memiliki keluhan serupa.
“Kami tak pernah memperoleh hinaan seperti ini di manapun di Eropa, selain di Paris,” katanya.
Imigran yang tidur di tempat terbuka di jalanan Paris itu sebagian besar berasal dari Afghanistan, Pakistan, juga negara-negara Afrika dan Timur Tengah.
Sebagian dari mereka menyiapkan tenda di pinggir Kanal St. Martin dan Porte de la Chapelle yang berada di sebelah pusat aplikasi suaka.
Minimnya tempat penampungan
Ratusan pencari suaka menunggu pemerintah memenuhi janji. Setelah kedatangan mereka hingga berbulan-bulan.
Itu artinya mereka akan berada di jalanan setidaknya hingga tanggal yang dijanjikan.
Sahir, warga Tunisia, mengatakan sejumlah pencari suaka meninggal akibat cuaca dingin.
“Empat-lima orang meninggal akibat kedinginan, ya, mereka meninggal karena kedinginan. Jadinya biasa saja, tidak ada yang bertanya tentang mereka…”
Salah satu kendala utama yang dihadapi imigran adalah minimnya tempat penampungan dan perumahan.
Jumlah mereka meningkat secara substansial setelah pembongkaran posko pengungsi Calais.
Menurut data resmi, 5.596 dari sekitar 7.000 telah dievakuasi.
Pada Juni, Perdana Menteri Edouard Philippe mengatakan 40 persen pencari suaka dan pengungsi tak memperoleh akses ke perumahan, saat ini terdapat 80.000 rumah dan posko pengungsi yang akan bertambah 12.500 pada 2018 dan 2019.
Pada 2016 saja, Prancis menerima 85.000 permintaan suaka.
Anak-anak, perempuan dan keluarga diprioritaskan untuk tinggal di perumahan yang disponsori pemerintah.
Laki-laki lajang bisa memperoleh perlindungan hingga 10 hari.
Pada Juni, Presiden Emmanuel Macron mengatakan pada Dewan Eropa: “Kita harus menyambut para pengungsi, ini tugas dan penghormatan kita.”
Hidup dalam ketakutan
Sayangnya apa yang dikatakan imigran mengenai pengalaman mereka di Prancis berlawanan dengan pesan presiden.
Ketika Muhammad dari Libya mengingat kembali hal mengerikan yang ia temui dulu di tanah asalnya, perdagangan manusia, anak yatim dan bagaimana ia hampir terbunuh, ia menjadi sangat kesal dengan kehidupan buruk yang ia alami di Prancis.
“Mereka harus tahu kondisi tempat ini, kami bahkan tidak punya kamar mandi.
“Saya punya janji bertemu [dengan pemerintah] bagaimana saya bisa pergi? Tak ada satu pun yang bisa menolongmu.”
Orang-orang di jalanan sangat cemas, mereka khawatir setiap saat polisi bisa saja datang dan menghancurkan kota tenda mini mereka. Selama dekade terakhir, polisi Prancis telah berkali-kali merazia tenda semacam itu.
“Paris amat dingin dan saya tidak punya rumah. Setiap polisi datang, mereka mengusir kami; setelah saya kami pergi ke tempat lain, polisi datang lagi dan mengusir lagi.
“Sepanjang hari saya pergi dari satu tempat ke tempat lain, kami berpindah sepanjang waktu,” kata Gul, remaja 19 tahun dari Afghanistan.
Cuaca kian dingin menjelang malam dan sulit baginya untuk diam berdiri.
Sudah lebih dari setahun sejak ia melarikan diri. Orang tuanya meninggal, ujarnya. Ia hanya memiliki seorang saudara laki-laki di kampung halaman, namun belum pernah berkomunikasi hampir setahun.
Ia menunjukkan tendanya ke kamera, dan menyebut lima orang yang tinggal di tempat mungil itu.
Akbal juga seorang migran namun kini memiliki dokumen. Ia tinggal di Paris dan memberikan bantuan kepada imigran semampunya.
Setelah membagikan makanan, ia bertanya: “Mereka melarikan diri dari perang, dari kesengsaraan. Jika tidak, untuk apa mereka datang kesini?”