Maria Elisa Hospita
08 Juli 2019•Update: 08 Juli 2019
Burak Karacaoglu
HATAY, Turki
Selain menghadapi siksaan, banyak tahanan di penjara Suriah terpaksa membayar sogokan dalam jumlah besar demi mendapat kebebasan.
"Keluarga saya harus membayar 500.000 lira Suriah (sekitar USD10.000) kepada salah satu anggota keluarga Assad untuk membebaskan saya," tutur Um Hisam, 50, seorang mantan tahanan kepada Anadolu Agency.
Selam ditahan di sejumlah penjara, di Aleppo, Damaskus, Homs, hingga Idlib, dia menyaksikan penyiksaan yang tak manusiawi. Akibatnya, Hisam kini menderita serangan jantung.
“Mereka memberikan roti berisi kecoa kepada para tahanan. Berat badan saya susut 17 pound dalam empat bulan," kata dia lagi.
Ditahan di perbatasan
Um Hisam terpaksa mengungsi ke Turki bersama istri dan anak-anaknya pada September 2011, karena perang saudara meletus di Suriah.
Ketika dia hendak kembali ke Suriah untuk mengambil dokumen yang diperlukan untuk pendaftaran sekolah anak-anaknya di Turki, dia ditahan oleh pasukan rezim Bashar al-Assad di gerbang perbatasan di Idlib.
Setahun setelah dibebaskan, dia pun kembali ke Turki untuk tinggal bersama keluarganya.
Krisis kemanusiaan di Suriah
Suriah telah dilanda konflik sejak awal tahun 2011, ketika rezim Assad menyerang kelompok pro-demokrasi dengan brutal.
Menurut PBB, sejak itu, ratusan ribu orang tewas dan lebih dari 10 juta orang terlantar.
LSM International Conscience Movement mengungkapkan bahwa lebih dari 13.500 perempuan dipenjara. Mereka kerap menjadi sasaran penyiksaan dan pemerkosaan.
*Ditulis oleh Zehra Nur Duz