Ekip
23 Januari 2018•Update: 24 Januari 2018
Ahmed al-Masri dan Gulsen Topcu
DOHA
Menteri Luar Negeri Qatar pada Senin menyatakan bahwa operasi kontra-terorisme oleh Turki di Afrin, Suriah, dilakukan berdasarkan kekhawatiran ekonomi yang bisa dimengerti.
"Pelaksanaan operasi militer Turki pada Sabtu lalu didorong oleh kekhawatiran-kekhawatiran yang berkaitan dengan keamanan nasionalnya dan keamanan perbatasan-perbatasannya, juga bertujuan untuk melindungi integritas wilayah Suriah dari bahaya perpecahan negara," tulis kantor berita Qatar QNA mengutip Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Lulwah Rashid Al Khater.
"Turki, negara anggota NATO, selalu menjadi faktor penyeimbang di wilayah ini," ujar dia.
Al Khater menambahkan bahwa Qatar "sangat percaya bahwa Republik Turki akan menjaga keselamatan masyarakat sipil dan persatuan wilayah Suriah".
Pada Sabtu lalu, Turki memulai Operasi Ranting Zaitun untuk membasmi teroris PYD/PKK dan Daesh dari Afrin.
Menurut Kepala Staff Umum Turki, operasi ini berujuan untuk menciptakan keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah tersebut, juga untuk melindungi masyarakat Suriah dari tekanan dan kekejaman teroris.
Operasi ini dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB, hak untuk membela diri di bawah Piagam PBB, dengan tetap menghormati integritas teritorial Suriah, ujar dia.
Pihak militer juga memastikan bahwa "sangat penting" supaya operasi tidak membahayakan penduduk sipil.
Afrin telah menjadi tempat persembunyian utama anggota PYD/PKK sejak Juli 2012 ketika rezim Bashar al-Assad meninggalkan kota tersebut untuk diduduki oleh kelompok teror tanpa melakukan perlawanan apapun.