Dunia

Puluhan pengungsi Rohingya ditahan di Bangladesh

Polisi menahan 81 pengungsi yang hendak diperdagangkan ke Malaysia

Rhany Chairunissa Rufinaldo   | 15.05.2019
Puluhan pengungsi Rohingya ditahan di Bangladesh Pengungsi Rohingya berada di kamp pengungsi Kutupalong di Maynar Guna, dekat Cox's Bazar, Bangladesh pada 07 April 2018. Rohingya, yang melarikan diri dari tekanan di Myanmar, mencoba hidup dalam kondisi yang sulit di tempat tinggal sementara yang terbuat dari bambu, batako atau nilon di kamp pengungsi Kutupalong. Kamp di Bangladesh menampung ribuan pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari militer di Myanmar. (Arif Hüdaverdi Yaman - Agensi Anadolu)

Ankara

SM Najmus Sakib

DHAKA, Bangladesh

Polisi Bangladesh menahan 81 pengungsi Muslim Rohingya yang menunggu untuk diperdagangkan ke Malaysia di pantai Cox's Bazar , kata seorang pejabat kepolisian setempat.

"Pada Senin malam, 23 pengungsi Rohingya, termasuk 17 wanita dan dua anak-anak, yang dibawa dari kamp-kamp pengungsi untuk dikirim ke Malaysia secara ilegal telah ditahan," ujar perwira polisi Ukhia Abul Khair kepada Anadolu Agency, Selasa.

Menurut Abul Khair, Para pengungsi yang ditahan mengatakan bahwa beberapa anggota keluarga mereka tinggal di Malaysia dan mereka berkumpul untuk pergi menemui mereka di sana.

Semua orang yang ditahan telah dibawa kembali ke kamp-kamp pengungsi dan operasi terus dilanjutkan untuk menangkap pelaku perdagangan manusia.

Sebelumnya pada Sabtu, polisi juga menahan 24 warga Rohingya di Dhaka dan menyita puluhan paspor Bangladesh dari empat tersangka pelaku perdagangan manusia yang membawa para pengungsi dari Cox's Bazar ke Dhaka.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar.

Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA yang berjudul 'Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira'

Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.

PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak kecil - pemukulan brutal, dan penculikan yang dilakukan oleh personil keamanan.

Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın