Handan Kazanci dan Iclal Turan
29 Maret 2022•Update: 30 Maret 2022
ISTANBUL
Presiden Turki pada Selasa mengulangi seruannya untuk gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina menjelang pembicaraan damai di Istanbul untuk mengakhiri perang yang memasuki awal bulan kedua.
“Kami percaya bahwa perdamaian yang adil tidak akan ada yang kalah, dan konflik yang berkepanjangan bukanlah kepentingan siapa pun,” kata Erdogan kepada negosiator Rusia dan Ukraina di kota metropolitan Turki.
Dia juga mengatakan Turki siap menjadi tuan rumah pembicaraan damai antara presiden Rusia dan Ukraina.
Erdogan menggarisbawahi bahwa Turki telah menunjukkan pendekatan yang adil untuk melindungi hak, hukum, dan kepekaan pihak Rusia dan Ukraina di semua platform internasional.
Putaran baru pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina yang ditengahi oleh Turkiye akan dimulai di Istanbul pada hari Selasa.
Negosiator Rusia dan Ukraina tiba di kota itu pada Senin.
Sebelumnya, Erdogan mengatakan dia akan duduk dengan kedua belah pihak untuk "pertemuan singkat" sebelum pembicaraan damai.
Dia juga mengatakan pembicaraan telepon dengan rekan-rekannya dari Ukraina dan Rusia berlanjut ke "arah yang menguntungkan."
Beberapa putaran pembicaraan antara Rusia dan Ukraina telah diadakan di Belarus sejauh ini, dan pembicaraan terakhir diadakan melalui tautan video pada 14 Maret, dengan belum ada hasil nyata yang dicapai.
Turkiye menjadi berita utama di seluruh dunia pada 10 Maret karena menjamu menteri luar negeri Rusia dan Ukraina di kota selatan Antalya, pertemuan tingkat tertinggi kedua belah pihak sejak perang dimulai pada 24 Februari.
Meskipun kedua pihak gagal mencapai kesepakatan tentang gencatan senjata, mereka setuju untuk melanjutkan negosiasi atas konflik tersebut.
Perang Rusia di Ukraina telah menimbulkan kemarahan internasional, dengan Uni Eropa, AS, dan Inggris, antara lain, menerapkan sanksi keuangan yang keras terhadap Moskow.
Setidaknya 1.151 warga sipil telah tewas di Ukraina dan 1.824 terluka, menurut perkiraan oleh PBB, yang memperingatkan bahwa angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.
Lebih dari 3,87 juta orang Ukraina juga telah melarikan diri ke beberapa negara Eropa, dengan jutaan lainnya mengungsi di dalam negeri, menurut badan pengungsi PBB.