Muhammad Abdullah Azzam
23 Mei 2019•Update: 24 Mei 2019
Yusuf Özcan
PARIS
Presiden Prancis Emmanuel Macron bertemu dengan komandan militer Khalifa Haftar, pemimpin angkatan bersenjata di Libya timur.
Dari pernyataan tertulis Istana Elysee, dalam pertemuan dengan Haftar itu, Presiden Macron mengatakan ingin memfasilitasi dialog antara para aktor di Libya.
Presiden Macron meminta Hafter melindungi penduduk sipil, serta bekerja untuk menyepakati gencatan senjata dan memulai perundingan politik kembali, ungkap Istana Elysee.
Macron mengatakan prioritas Prancis di Libya adalah memerangi terorisme, menghancurkan jaringan penyelundupan manusia serta memastikan stabilitas di negara itu.
Dia menambahkan pemerintahan sementara di Libya harus dibentuk dan persiapan pemilihan harus segera dimulai.
Awal bulan lalu, pasukan Haftar juga melancarkan operasi militer untuk merebut Tripoli dari pemerintah Libya (GNA) yang diakui PBB.
Namun, setelah lebih dari sebulan bertempur di pinggiran Tripoli, kampanye Haftar telah gagal mencapai misi utamanya.
Libya masih diliputi gejolak sejak 2011, ketika Muammar Gaddafi digulingkan dan meninggal dunia dalam pemberontakan yang didukung NATO setelah empat dekade berkuasa.
Sejak itu muncul dua kursi kekuasaan yang saling bersaing di negara kaya minyak itu, satu di Libya timur, di mana Haftar berafiliasi, dan GNA yang berbasis di Tripoli.