Necva Tastan Sevinc
15 April 2025•Update: 16 April 2025
ISTANBUL
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot memperingatkan potensi tindakan pembalasan setelah Aljazair mengusir 12 pejabat Prancis pada Selasa (14/02).
Perintah pengusiran terhadap pejabat Prancis, menyusul dakwaan terhadap tiga orang warga negara Aljazair di Paris. Salah satunya bekerja untuk konsulat Aljazair di Prancis, atas tuduhan terkait terorisme.
Kantor kejaksaan antiterorisme nasional Prancis mengonfirmasi bahwa para tersangka didakwa Jumat lalu dengan penangkapan, penculikan, penahanan yang tidak sah, dan memiliki hubungan dengan kelompok teroris.
Barrot menyebut keputusan Aljazair "sangat disesalkan" dan memperingatkan tentang "konsekuensinya."
"Pihak berwenang Aljazair memutuskan bereaksi terhadap prosedur peradilan yang independen dengan mengusir 12 pejabat Prancis. Ini adalah keputusan yang sangat disesalkan, yang membahayakan dialog yang telah kami mulai," kata Barrot di televisi France 2.
"Keadilan bersifat independen, dan proses hukum tidak ada hubungannya dengan hubungan antara dua pemerintah," tambahnya.
Pejabat Prancis yang dimaksud dilaporkan diberi waktu 48 jam untuk meninggalkan wilayah Aljazair.
"Jika Aljazair bersikeras melakukan pengusiran ini, kami tidak punya pilihan selain mengambil tindakan serupa," kata Barrot.
Aljazair menyalahkan Menteri Dalam Negeri Prancis Bruno Retailleau atas ketegangan diplomatik terbaru, menuduhnya memikul "tanggung jawab penuh" atas ketegangan tersebut.
Namun, Barrot menolak klaim tersebut, dengan mengatakan, "Menteri Retailleau tidak ada hubungannya dengan urusan peradilan ini, yang telah berlangsung selama berbulan-bulan."