Muhammad Abdullah Azzam
22 April 2019•Update: 23 April 2019
Ahmet Furkan Mercan
ANKARA
Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe menyebut bahwa pihak intelijen telah menerima informasi sebelum peristiwa-peristiwa serangan teror di negaranya, ungkap harian Sunday Times.
Berbicara kepada wartawan di ibu kota Kolombo, PM Wickremesinghe mengungkapkan bahwa pemerintah akan menyelidiki penyebab mengapa ancaman serangan-serangan tersebut diabaikan dan tidak ditindak lanjuti.
Menurut harian Sunday Times, Wickremesinghe menyatakan bahwa sebanyak 207 orang tewas dan 450 lainnya menderita luka-luka dalam berbagai serangan teror kemarin Minggu.
Wickremesinghe menyebut dirinya menerima telepon dari sejumlah pemimpin negara yang ingin berkontribusi dalam proses penyelidikan tersebut.
Dia menambahkan bahwa negaranya akan menghargai dukungan dari negara lain soal kemungkinan hubungan jaringan teror di luar negeri.
Perdana Menteri Wickremesinghe menuturkan bahwa para pelaku adalah warga Sri Lanka, selanjutnya polisi akan memberikan informasi terkait para pelaku selama proses penyelidikan berlangsung.
Serangkaian ledakan mengguncang beberapa lokasi, yaitu, Gereja Kochikade, Gereja Katuwapitiya, Hotel Shangri-La, Hotel Cinnamon Grand dan gereja St Barnabas di Batticaloa di Kolombo pada Minggu pukul 8.30 pagi waktu setempat.
Menteri luar negeri Sri Lanka mengumumkan bahwa setidaknya 27 warga negara asing dipastikan tewas dalam serangan itu, sementara lima lainnya dilaporkan hilang.
Dua insinyur warga Turki bernama Serhan Selcuk Narici dan Yigit Ali Cavus tewas dalam serangan itu.
Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
Pasukan keamanan Sri Lanka sebelumnya berperang melawan Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE), sebuah organisasi gerilya yang berjuang untuk memerdekakan negara Tamil, yang berakhir pada Mei 2009.
Sekitar 1,5 juta umat Kristiani, mayoritas dari mereka adalah Katolik, diperkirakan tinggal di negara itu, membentuk sekitar 7 persen dari total populasi.