Rhany Chairunissa Rufinaldo
26 September 2019•Update: 27 September 2019
SM Najmus Sakib
DHAKA, Bangladesh
Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina mengatakan dunia harus mendesak Myanmar untuk menciptakan situasi yang kondusif bagi repatriasi Rohingya.
"Krisis Rohingya adalah tantangan berat bagi Bangladesh ... kami menginginkan penyelesaian krisis yang damai dan segera. Myanmar telah menciptakan krisis dan solusinya ada di Myanmar," kata Hasina di hadapan Dewan Hubungan Luar Negeri di New York, Rabu.
Dilansir dari kantor berita Bangladesh Sangbad Sangstha, Hasina menuduh Myanmar ingin memusnahkan minoritas Rohingya dari Negara Bagian Rakhine, lapor .
"Orang-orang Rohingya melarikan diri dari kekerasan dan kekejaman dan kami membuka perbatasan kami untuk melindungi mereka di tanah kemanusiaan," ujar dia.
Hasina menambahkan bahwa pemerintahnya telah habis-habisan mendukung minoritas Muslim di Myanmar sejak Agustus 2017 ketika mereka melarikan diri dari tindak kekerasan militer.
“Kami juga mendesak Anda semua untuk mengunjungi kamp Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh. Kami yakin, jika Anda mengunjungi kamp-kamp itu, Anda akan terguncang oleh kisah-kisah kekejaman mereka yang mengerikan di tangan pasukan keamanan Myanmar dan warga lokal," tutur sang perdana menteri.
"Saya yakin, melihat penderitaan mereka akan melukai hati Anda dan Anda ingin melihat akhir dari kesulitan mereka secepatnya," tambah dia.
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012.
Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya dibunuh oleh tentara Myanmar.
Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.