Chandni
30 Januari 2018•Update: 31 Januari 2018
Kyaw Ye Lynn
YANGON, Myanmar
Setahun lalu, Ko Ni, seorang pengacara Muslim dan penasehat hukum partai National League for Democracy, dibunuh di Yangon, Myanmar.
Organisasi pengacara, anggota keluarga yang ditinggalkan dan asosiasi pengemudi taksi pada Senin menandai setahun dibunuhnya Ko Ni dan mendesak keadilan untuk korban.
Ko Ni, 63 tahun, ditembak oleh seorang pria di Yangon International Airport pada 29 Januari. Dia baru saja pulang dari Indonesia setelah bertemu dengan sejumlah petinggi Muslim dan pejabat negara. Pengemudi taksi Nay Win, 48 tahun, juga ditembak mati ketika dia mencoba menghentikan pria bersenjata itu.
Pelakunya, Kyi Lin, ditahan tidak lama setelah serangan itu. Dia mengatakan diutus oleh sejumlah mantan anggota militer dan seorang pebisnis yang menugaskannya membunuh Ko Ni.
Polisi kemudian menahan tiga tersangka lain - Zeya Phyo, Aung Win Zaw dan Aung Win Tun. Seorang lagi, Aung Win Khaing, masih diburu polisi.
Pengadilan mereka mulai 10 bulan lalu, namun hingga kini kasus itu masih menggantung bahkan setelah hampir 50 kali bertemu di meja hakim.
"Kami bisa menunggu. Kami tidak peduli bila proses pengadilan memakan waktu sepuluh tahun," kata Yun Nwe Khaing, putri Ko Ni, kepada Anadolu Agency. "Kami hanya ingin tahu siapa dalang dibalik peristiwa ini."
"Kami tidak bisa mendapatkan keadilan selama Aung Win Khaing masih bersembunyi," lanjut Yin Nwe Khaing.
Jaringan Pengacara Myanmar, Asosiasi Pengacara Yangon dan Jaringan Pengacara Media merilis pernyataan yang mendesak agak pihak berwenang segera menghukum para pelaku.
"Kami menduga ada kesalahan dalam penyelidikan polisi. Mereka mengatakan Aung Win Khaing belum meninggalkan Myanmar, jadi mengapa dia belum ditahan hingga kini?" tanya Nay La, pengacara Ko Ni, kepada Anadolu Agency.
"Jadi pertanyaannya adalah dimana dia bersembunyi atau siapa yang melindunginya," kata pengacara itu.