Maria Elisa Hospita
19 Maret 2021•Update: 20 Maret 2021
Michael Hernandez
WASHINGTON
Pejabat senior Amerika Serikat dan China memulai pertemuan dua hari mulai Kamis di Alaska.
Selama pertemuan tatap muka perdana sejak Presiden AS Joe Biden menjabat, kedua pihak terlibat perdebatan sengit.
Hal itu dipicu oleh keputusan Menteri Luar Negeri Antony Blinken yang baru-baru ini menyusun serangkaian tindakan atas China.
Serangkaian tindakan itu di antaranya sanksi untuk Beijing terkait tindakan kekerasan mereka ke minoritas Muslim Uighur, yang menurut AS adalah genosida, serta tindakan Beijing di Hong Kong dan Taiwan.
"Setiap tindakan ini mengancam tatanan berbasis aturan yang menjaga stabilitas global," terang Blinken.
"Oleh karena itu, kami menganggap itu bukan hanya masalah dalam negeri China, sehingga kami merasa berkewajiban menindaklanjuti masalah ini dan membahasnya," kata dia lagi.
Jake Sullivan, penasihat keamanan nasional Biden, juga menuding China melakukan "serangan terhadap nilai-nilai dasar".
Kepala urusan luar negeri Partai Komunis China Yang Jiechi pun mengkritik AS yang menurutnya sibuk mengurusi masalah negara lain, alih-alih menyelesaikan masalah HAM di negaranya.
"Kami percaya bahwa lebih penting bagi Amerika Serikat untuk mengubah citranya sendiri karena warga Amerika sebenarnya memiliki sedikit kepercayaan pada demokrasi Amerika Serikat," ujar dia.
"China tidak akan menerima tuduhan tidak berdasar dari pihak AS," tegas Yang.
Yang dan Anggota Dewan Negara Wang Yi bertemu dengan Blinken dan Sullivan untuk pertemuan hari kedua pada Jumat pagi.