Maria Elisa Hospita
25 Oktober 2018•Update: 25 Oktober 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Kekerasan yang dapat dikategorikan sebagai genosida terhadap minoritas Muslim Rohingya Myanmar terus berlangsung hingga saat ini.
Ketua misi pencarian fakta PBB Marzuki Darusman pada Rabu mengatakan kepada wartawan di markas PBB di New York bahwa pejabat Myanmar akan terus melanjutkan siklus kekerasan terhadap Rohingya kecuali ada impunitas diakhiri.
"Sebanyak 400.000 warga Rohingya yang belum meninggalkan negara itu masih terus mengalami penindasan," ungkap dia seraya meminta masyarakat internasional untuk bertindak menghentikan pelanggaran.
Sementara itu, penyelidik khusus PBB Yanghee Lee mengatakan ada harapan bahwa pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi akan mengantarkan Myanmar ke era baru, namun situasinya "tidak akan jauh berbeda dari masa lalu".
Menurut laporan yang diterbitkan oleh Badan Pembangunan Internasional Ontario, sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh pasukan Myanmar.
"Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli," ungkap laporan itu yang berjudul "Migrasi Paksa Rohingya".
Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah orang-orang Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak.
Amnesty International mengungkapkan lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar anak-anak dan perempuan, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan kekerasan ke kelompok minoritas tersebut pada Agustus 2017.
PBB telah mendokumentasikan adanya pemerkosaan massal, pembunuhan, pemukulan brutal, dan penghilangan paksa yang dilakukan oleh pasukan negara.
Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
*Betul Yuruk turut melaporkan dari PBB