Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Beberapa senator Amerika Serikat dari Partai Demokrat menentang aksi serangan udara AS yang menewaskan Qasem Soleimani, Komandan Pasukan Garda Revolusi Iran di Baghdad, Irak.
Para senator Demokrat menuduh Presiden Donald Trump telah "menyeret AS ke dalam kancah peperangan”.
Beberapa senator merilis pernyataan di Twitter usai Departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengumumkan instruksi pembunuhan terhadap jenderal Iran Suleimani melalui serangan udara.
Senator Demokrat Chris Murphy menekankan bahwa pemerintahan Trump belum berkonsultasi dengan Kongres sebelum memberikan instruksi serangan itu.
"Jelas Qasem Soleimani memang musuh Amerika Serikat, tetapi pertanyaannya di sini adalah: apakah AS membunuh tokoh penting kedua Iran yang paling kuat tanpa izin dari Kongres, apakah ini akan memicu perang regional yang mengerikan?” ujar Murphy.
“Alasan mengapa secara umum kita tidak membunuh tokoh politik asing adalah keyakinan bahwa langkah seperti itu akan menyebabkan kematian lebih banyak orang Amerika. Ini harus menjadi perhatian kita yang nyata, mendesak dan serius malam ini," sebut dia.
Senator Richard Blumenthal juga memberikan respons serupa, dia menekankan bahwa pemerintahan Trump harus segera berbicara kepada Kongres dan publik Amerika tentang serangan itu.
Blumenthal menegaskan bahwa langkah ini dapat menyebabkan konflik terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
“Kekhawatiran terbesar saya adalah keamanan orang-orang Amerika yang berada di wilayah itu," ungkap dia.
Senator Tom Udall juga menggarisbawahi bahwa Trump telah menyeret rakyat Amerika ke tepi perang baru dengan serangan ini tanpa meminta izin dari Kongres AS.
"Untuk mencegah perang ilegal dengan Iran, kami harus segera mengesahkan undang-undang. Kongres harus segera mengambil tindakan," tutur Udall.
Senator Tom Carper menekankan bahwa pemerintahan Trump selalu melakukan tindakan provokatif terhadap Iran.
"Ketika datang urusan terkait Iran, pemerintahan ini selalu memilih untuk melakukan provokasi yang tak bijak daripada melakukan strategi yang stabil. Ketakutan saya adalah apa yang terjadi malam ini adalah salah satunya," jelas Carper.
Senator Republik Graham dukung serangan AS itu
Di sisi lain, Senator Republik Lindsey Graham, yang dikenal kedekatannya dengan Trump, mendukung serangan itu, karena dia menuding Soleimani adalah pembunuh banyak orang Amerika.
Graham berterima kasih kepada Trump atas operasi udara AS itu.
Dia mengatakan bahwa serangan itu adalah balasan membunuh dan melukai orang Amerika.
“Itu adalah pukulan hebat bagi rezim Iran yang berlumuran darah Amerika. Soleimani adalah salah satu anggota rezim Ayatullah yang paling kejam dan kotor. Di tangannya ada darah Amerika," ungkap Graham.
Graham juga mengatakan bahwa jika Iran melanjutkan serangannya, maka mereka akan menanggung balasan dengan kerugian yang besar.
"Kata-kata ini ditujukan kepada rezim Iran: Jika Anda ingin lebih, Anda akan dapatkan. Jika Anda ingin berada di pasar minyak, maka tinggalkan Amerika dan sekutunya sendirian dan berhenti menjadi pemodal teroris terbesar di dunia,” kata Graham.
“Jika Iran terus menyerang AS dan sekutunya, maka negara itu harus membayar kerugian terberat, termasuk hancurnya kilang minyak mereka," tukas dia.
Departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengumumkan bahwa Qasem Soleimani, Komandan Garda Revolusi Iran, dan Abu Mahdi al-Muhandis, Wakil Ketua Pasukan Hashd al-Shaabi tewas dalam serangan drone dekat Bandara Internasional Baghdad.
Tentara Pengawal Revolusi Iran juga membenarkan kematian jenderal Iran Soleimani dalam serangan AS itu.
Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamenei bersumpah akan membalas dendam pada AS yang telah membunuh Jenderal Soleimani.
Khamenei juga mengumumkan masa berkabung nasional di negaranya selama tiga hari.
news_share_descriptionsubscription_contact
